Sporty Magazine official website | Members area : Register | Sign in
coretan tinta. Diberdayakan oleh Blogger.

diary ips 3 sma n 1 adipala

Kamis, 14 Februari 2013

Add caption
Add caption
Add caption


Add caption

slank imagine

Rabu, 13 Februari 2013

PULAU BIRU : TEMPAT NGEGOJLOK MENTAL ORANG

Pulau Biru yang jadi judul lagu di album Kampungan, adalah nama lain untuk komunitas di Jalan Potlot III/14 Pasar Minggu Jakarta Selatan. Nama ini muncul setelah Slank melepaskan diri dari Budhi Soesatio. Jadi hampir nggak mungkin ngomongin Slank tanpa menyinggung Pulau Biru. Dari awalnya sebuah komunitas, Pulau Biru berkembang jadi rumah produksi (Pulau Biru Production), sekitar pertengahan 1994. Lewat rumah produksi inlah segala aktivitas dikendalikan. Mulai urusan kontrak artis, fans club, merchandise sampai ke soal manajemen lainnya. Bertindaks sebagai direktur adalah Denny, mantan pemain bass Slankyang juga sepupu Bimbim, Kaka dan Rere. Meski bernuansa urakan, Pulau Biru memiliki struktur organisasi cukup jelas. Hak kepemilikannya dipegang Slank, Denny, Bunda dan Rustam Rastamanis. Buat memperlancar bisnis, Pulau Biru membuat tiga divisi, yaitu manajemen artis, fans club dan rekaman (Piss Record).
Seabrek anak kreatif lalu ngumpul disini. Ada revi Temo (tukang ngurusin Buletin), Oche Van Jose (manajer Slank dan Imanez), Dimas Djayadiningrat (spesialis coretan nyentrik, antara lain album Generasi Biru), Ferry Pengen (humas), Budi (nongkrongin mixer kalo Slank atau artis Pulau Biru lainnya lagi manggung), Dade (komandannya Kidnap Katrina dan Oppie). Karakter bisnis Pulau Biru persis kayak perangai anak-anak Slank yang sponatn dan slengean. Struktur kepengurusannya berubah-ubah secara spontan, tergantung kebutuhan atau ide yang muncul pada waktu itu. Oche, misalnya, sekali waktu bisa saja ngurusin Oppie. Sementara Dade pindah jadi pemain bas BOP (Bandnya Oppie). Begitu seterusnya.
Denny pun nggak terlalu lama menyandang jabatan manajer. Posisinya diambil alih Oche, dari Oche kemudian pindah ke Abi Rahmat Akbar. Abi keluar, digantikan Ila, adik bungsu Bimbim. Tu cewek juga Cuma sebentaran. Dia mundur karena dilamar orang. Penggantinya adalah Lulu Ratna yang adik Gugun Gondrong itu. "Sewaktu Ila keluar masih ada kontrak Slank yang belum kelar. Sedang Bimbim menganggap Bunda belum mampu menangani Slank," papar Bunda Iffet. Jadi, keterlibatan Lulu yang Cuma berlangsung empat bulan itu kurang lebih untuk menyelesaikan sisa kontrak antara September hingga Desember 1997. Begitu kelar, dia pun cabut. Penggantinya adalah Stevie, yang langsung membawahi Slank formasi Ridho – Abdee. Toh meski diakui cara kerjanya professional, Slank rupanya nggak begitu klop sama Stevie. "Beberapa acara yang dia bikin cukup sukses. Cuma gagasannya terlalu banyak yang musti segera direalisir. Percepatan itu nggaks sesuai dengan gaya Slank," kata Bimbim.
"Disamping itu, kami pingin setiap hari dia muncul di Potlot, ternyata nggak sanggup. Memang sih, manajer nggak musti saban hari dating. Tapi waktu itu kami ngebutuhin dia," tambah Abdee Negara. Masa kerja Stevie lebih singkat dari Lulu Ratna : Cuma satu bulan! Setelah beberapa kali pergantian itu, akhhirnya Bunda Iffet turun tangan mengendalikan manajemen Slank. Nggak nyombong, Bunda lah yang paling ditakuti personel Slank. Setidaknya, Cuma Bunda yang sanggup "mengeluarkan" Bimbim atau Kaka dari kamarnya. Kenapa Slank begitu sering gonta-ganti manajer ? Menurut Bunda, kebanyakan ortu menganggap kerjaan manajer artis nggak lebih dari sekedar hobi. Abi,satu contoh, akhirnya memilih kerja kantoran sesuai permintaan ortunya.
Seiring dikeluarkannya Pay, Bongky dan Indra, satu per saut pengurus Pulau Biru mulai ngilang. Orang yang paling akhir cabut adalah Rustam Rastaman, cowok mungil yang pernah begitu aktif. Kini pengurus Pulau Biru praktis tinggal lima orang : Bunda (manajer), Ina (asisten), Ani (sekretaris), ‘Nti (merchandise) dan Masto (teknik). "Mereka mendapat gaji bulanan dan tiap kali habis proyek pasti dapat bonus." Kata Bunda. Biaya operasional manajemen Pulau Biru diperoleh dari hasil penjualan merchandise dan potongan 5 persen untuk setiap kontrak Slank atau artis lainnya. Tapi melihat lonjakan harga bahan baku sekarang ini, Bunda berencana untuk bikin perubahahan prosentase. Dengan popularitas Slank yang luar biasa, sebenarnya bisnis merchandise Pulau Biru menjanjikan keuntungan yang nggak kecil. Tapi menurut Bimbim keuangan ruamh produksi tersebut tetap kososng, kalo nggak mungkin ditulis bangkrut. Lho ? "Kami terlalu percaya sama orang," sambungnya. Dia nggak merinci lebih jauh. Jadi ya kamu cari tau sendiri maksud jawaban tersebut.
Sekarang dengan Bunda sebagai komandan, pulau Biru kelihatannya berusaha menata kembali manajemen. Sosok yang nggak lagi bisa dibilang muda itu, dibantu Sarina, tampaknya tertantang untuk bertindak adil. Salah satu hal yang bikin runyam adalah tradisi kasbon (minjem duit). Ia menolak menyebut siapa saja personel Slank yang paling sering kasbon. "Kalo yang udah berkeluarga nanti dia malu, nggak usah disebutin," elaknya sembari tersenyum. Ah Bunda lupa, kalo Cuma ngitung anak Slank yang udah berkeluarga kan gampang! Jawaban khas ortu ini sekaligus menunjukan bahwa karakter bisnis Pulau Biru sebenarnya mendua. Orang-orangnya berusaha professional, tapi roda bisnis yang sekarang dijalankan masih bersifat kekeluargaan. "Unsur kekeluargaan di Slank memang dominan banget," komentar Lulu Ratna yang memilih berada di luar pagar.
Entah ada hubungannya atau nggak, mereka yang mental dari Pulau Biruumumnya yang nggak punya hubungan sodara. Toh Bimbim melihatnya dari sudut pandang lain. " Pulau Biru adalah tempat menggodok mental artis. Yang kuat bakal melejit, sebaliknya yang nggak kuat bakal jadi gila." Bimbim mungkin cuma bercanda. Tapi maksudnya jelas, dalam hal apapun tetap dibutuhkan totalitas. Nah siapa yang mentalnya kuat dan siapa yang nggak, kamu cari sendiri jawabannya. Cuma yang musti diingat, kehadiran Pulau Biru sudah memberi sumbangan cukup berarti buat dunia musik kita. (Hai Klip Slank Okt 98).

Terlalu Manis Untuk Dilupakan dari Slank (Sebuah Catatan Singkat Perjalanan Slank)

Senin, 11 Februari 2013

“Jujur aja, mental kami (pada saat itu) nggak siap. Tiba-tiba segala hal jadi mudah. Orang-orang yang tadinya nggak asik sama kita, jadi asik.” - Bim-Bim, Drumer SLANK -

Bim-Bim, Drumer SLANK -
Pada saat anak2 seusianya pada saat itu bercita-cita jd presiden, dokter atau insinyur, Bimo Setiawan Sidharta (17 tahun) yg akrab dipanggil Bim-Bim justru malah bercita-cita menjadi seorang drummer sampai pada akhirnya ia mulai membentuk grup band Slank 28 tahun silam.
Bim-Bim udah ngerasa bosan terus-menerus membawakan lagu milik orang lain sehingga ia membentuk grup band Slank. Sebelumnya, ia udah pernah membentuk grup band bersama teman2 sekolahnya di Perguruan Cikini yg bernama Cikini Stone Complex (CSC), yang beranggotakan Bim-Bim (Drum), Boy (Gitar), Kiki (Gitar), Abi (Bass), Uti (Vokal) dan Well Welly (Vokal), tapi, ya itu tadi, bisanya cuma membawakan lagu orang lain. “Gue bosen jadi plagiat,” begitu kata Bim-Bim.
Mereka sering membawakan lagu2 Rolling Stones yang juga merupakan idola mereka.
Di tengah jalan, beberapa dari mereka keluar dengan berbagai alasan. Dengan diiringi keuletan dan tekad yang kuat dari seorang Bim-Bim untuk menggapai cita-citanya menjadi seorang drummer sebuah grup band, maka ia pun membentuk sebuah band lagi bersama kedua saudaranya Denny dan Erwan serta mengajak Bongky Marcel sebagai gitaris baru yang pada saat itu tercatat sebagai gitaris Cockpit Junior Band dan mereka memutuskan utk membentuk grup band baru yg dinamakan ‘Red Evil’ dg formasi Bim-Bim (Drum), Bongky (Gitar), Kiki (Gitar), Denny (Bass), dan Erwan (Vokal) dan merekapun udah mulai berani memainkan lagu2 mereka sendiri.
Penampilan mereka yang cenderung slenge’an dan seadanya diatas panggung, membuat para penonton dan teman2 mereka menyebut mereka band slenge’an dan mulai saat itulah nama band mereka berubah menjadi SLANK. Sebenarnya, Slank dibentuk dengan tujuan sederhana yaitu bisa manggung dg lagu sendiri dan berharap bisa masuk dapur rekaman.
Tapi, meski udah membuat lagu sendiri, mereka ga bisa dengan mudah masuk dapur rekaman. Lima anak muda ini udah mendatangi beberapa perusahaan rekaman, tapi ga satu pun yang ambil peduli. “Alasannya, musik kami nggak bisa dijual,” kenang Bim-Bim.
Saat itu dunia rekaman Indonesia sedang ramai dengan musik rock-nya Nicky Astria dan Ikang Fawzy, pop kreatifnya Dedi Dhukun, dan juga pop melankolisnya Rinto Harahap plus Obbie Mesakh. Musik Slank yg ga masuk tiga kategori itu dianggap ga bisa menghasilkan keuntungan. Slank sempat frustrasi. Lantas mereka mencoba berkompromi dengan selera pasar. “Kami membuat lagu rock yang mirip-mirip lagunya Ikang Fawzy,” kata Bim-Bim. Sayangnya, meski udah kompromi begitu, lagu-lagu Slank tetap dinilai ga layak rekaman. Alasannya sama yaitu tidak komersil.
Selama menawarkan demo rekamannya itu, personel Slank pun berganti-ganti. Alasannya beragam, ada yang pengen meneruskan sekolah atau juga ada yang capek dengan kondisi band yang gitu-gitu aja. Pergantian personel emang udah menjadi kebiasaan dalam band ini, bahkan ada formasi Slank yang dibentuk khusus cuma untuk manggung disebuah acara ‘hajatan’.
Tercatat udah sekitar 13 kali Slank mengalami gonta-ganti personel. Bersama Bongky, Bim-Bim masih terus bertahan mengibarkan bendera Slank dan terus-menerus gonta-ganti personel, hingga akhirnya mereka bertemu dg Parlin Burman Siburian (Pay), Indra Chandra Setiadi (Indra Qadarsih) dan Akhadi Wira Satriaji (Kaka) yang juga merupakan sepupu dari Bim-Bim dan kemudian merekapun bergabung bersama Bim-Bim dan Bongky didalam Slank.
Setelah melalui proses yang sangat panjang, pada akhir tahun 1980-an, Slank dg formasi Bim-Bim (Drum), Bongky Marcell (Bass), Pay (Gitar), Kaka (Vokal), dan Indra Qadarsih (Keyboard) yang akhirnya berhasil membawa Slank masuk ke dapur rekaman.
1342946473398252175
Pay yang berjasa besar mengantarkan Slank berkenalan dengan Boedi Soesetyo, yang pada akhirnya menjadi manajer Slank. Ceritanya, selain bermain untuk Slank, Pay kadang juga bermain gitar mengiringi artis lain untuk rekaman.
Nah….suatu ketika, Pay mengisi gitar untuk album Nike Ardilla. Saat itu, Nike sedang ditangani produser Ichwan dan Boedi Soesetyo. Setelah tugasnya selesai, Pay menawarkan bandnya sendiri yakni Slank supaya bisa diberi kesempatan untuk rekaman. Ia lantas memperdengarkan demo Slank kepada dua produser ini. Tak disangka, dua orang ini tertarik. Langsung aja Slank pun diajak rekaman. Tapi di tengah jalan, Ichwan mundur. Jadilah Boedi sendirian yang menjadi produser.
Slank pun akhirnya masuk dapur rekaman dan berhasil merilis album pertama yang bertajuk SUIT-SUIT…He…He…(GADIS SEXY). Album yang keluar pada tahun 1990 ini ternyata laku keras. Album ini pun yang membuat Slank mendapatkan penghargaan di BASF Award 1991 sebagai ‘Artis Pendatang Baru Terbaik’.
Musiknya yang garang ditambah dengan lirik yang ’semau gue’, ternyata disukai banyak orang. “Kami cuma cerita yang ada di sekeliling kami,” kata Bimbim, yang memang paling sering memberi ide lirik lagu Slank. Di album pertamanya, Slank juga tanpa sungkan menunjukkan jati diri mereka yang sebenarnya, seperti yang mereka tuangkan dalam lagu yg berjudul ‘Memang’.
Walaupun usia para personel Slank pada saat itu masih sangat muda (bahkan Kaka dan Indra pada saat itu masih berusia belasan), Slank mampu mendobrak tradisi lirik musik Indonesia yang bersopan santun dalam tata bahasa. Dalam hal musik,di album pertamanya ini, mereka juga mencampur semua jenis musik. mulai dari rock yang hingar-bingar dalam lagu ‘Suit-suit…He…He…He…’, blues di lagu ‘Apatis Blues’, sampai rock manis di lagu ‘Maafkan’.
Slank bukan cuma ’semau gue’ dalam musik dan lirik lagu2nya, gaya berpakaian mereka pun sembarangan. Sandal jepit, kaus oblong dan celana jins belel (kadang2 celana pendek) adalah ’seragam’ sehari-hari mereka pada saat itu.
Bahkan pada saat itu, penampilan keseharian Kaka sang vokalis malah lebih mirip anak gelandangan daripada seorang vokalis grup band terkenal yang digandrungi remaja penggemar musik saat itu. Mereka juga tanpa sungkan memakai ’seragam’nya itu di mana aja.
Pernah, dalam suatu acara penghargaan musik di tahun 90-an, biasanya para artis yang datang mengenakan pakaian dari perancang busana ternama, justru sebaliknya pada saat itu Kaka malah datang dengan memakai kaus kostum timnas sepak bola Brasil, bercelana pendek, dan bersandal jepit.
Boedi ternyata produser yang jeli. Ia melihat gaya anak2 Slank yang se’mau’nya dan tidak mengindahkan aturan ini bisa dijual. Boedi pun lantas mengimbau anak2 Slank agar jangan mengubah gaya berpakaian ataupun gaya hidup mereka. “Kami disuruh jadi diri sendiri. Wah, rasanya senang banget,” kata Kaka. “Kami bahkan dilarang membaca buku-buku yang puitis seperti bukunya Kahlil Gibran untuk menulis lagu,” Bim-Bim menambahkan. Maka dari itu, semakin menjadilah Slank sebuah band baru dengan semangat pemberontakan. Bukan cuma dalam soal musik, tapi juga untuk urusan gaya hidup.
Pada tahun 1992, Slank mengeluarkan album kedua yg mereka beri nama ‘KAMPUNGAN’. Album ini pun laku keras. Gaya musiknya semakin ’semau gue’, tapi tetap enak didengar dan menyiratkan kecerdasan bermusik.
13429468531113482823
Coba denger lagu ‘Nina Bobo’. Didalam lagu ini, mereka berlima bersama-sama bernyanyi lagu tidur Nina Bobo dg hanya diiringi permainan keyboard ‘cerdas’ ala Indra Qadarsih. Gilanya, mereka memasukkan suara dengkur keras sebagai latar belakanqg nyanyiannya. Kegilaan lainnya lagi ada pada lagu ‘Bali Bagus’ yg diakhir lagu tsb, mereka memasukan suara Kaka yang lagi mabok berat. Di Album ini juga hits ‘Mawar Merah’ dan ‘Terlalu Manis’ yg melegenda itu tercipta. Dua lagu yang seolah-olah udah menjadi lagu wajib Slank saat konser sampe saat ini.
Sukses Slank diikuti dengan banyaknya musisi yang berdatangan ke ‘markas’ Slank di Jalan Potlot, Duren Tiga, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Banyak musisi dan penyanyi yg ga cuma nongkrong, tapi jg ber’guru’ disana seperti Anang Hermansyah, Oppie Andaresta, Thomas ‘GIGI’ , Eki Lamoh (ex-Edane), Anda ‘Bunga’, Well Welly, Alm. Imanez, Ivanka, Baron, Flowers band, Alm. Andy Liani, Ipang ‘BIP’ dll. Merekapun juga mengawali kariernya di tempat ini.
Sehingga jadilah tempat tsb sbg ‘markas’ Slank, yang sebenarnya tempat tsb adalah rumah orangtua Bim-Bim. Setiap hari tempat tsb selalu ramai dikunjungi para musisi, ditambah para Slankers yang sekadar ingin berdekatan dengan para idolanya itu.
Bim-Bim mengaku kaget dengan kenyataan ini. “Jujur aja, mental kami nggak siap,” katanya. Menurut dia, bisa rekaman aja udah lebih dari cukup. Ia ga siap dengan popularitas. “Tiba-tiba segala hal jadi mudah. Orang-orang yang tadinya nggak asyik sama kita, jadi asyik,” kata Bim-Bim lagi.
“Slank pecah memang gara-gara mabok” - Bongky ‘BIP’, ex- Slank -
Saat itu, Slank emang lagi menikmati ketenaran. Setiap panggung pertunjukannya selalu dipenuhi penonton. Para Slankers seperti tak bosan-bosannya menghadiri pertunjukan yang mereka adakan. Album ketiganya yang diberi nama ‘PISS’ (1993) lagi2 laris manis, begitu juga album keempat ; ‘GENERASI BIRU’ (1994) yang melahirkan lagu2 hits seperti ‘Kamu Harus Pulang’ dan ‘Terbunuh Sepi’.
13429469311855562823
Kesuksesan ini nyatanya berpengaruh pada gaya hidup anak-anak Slank. Entah siapa yang memulai, mereka mulai akrab dengan putaw, narkotik jenis heroin. Keakraban mereka dengan narkotik melebihi keakraban antarpersonel band. Lima anak muda yang biasanya selalu bersama-sama di rumah Bim-Bim mulai asik sendiri-sendiri. Band pun mereka lupakan.
Badan para personel Slank pada saat itu udah makin tak berdaging alias kurus kering, loyo, mata kuyu, jarang tidur, hidup kacau, ga keurus dan yang paling parah adalah mereka semakin menjadi seorang pemadat berat. Ga ada hari tanpa drugs dan alkohol. Makin mabok, terasa makin asik dan lebih rock n’ roll.
Para tetangga mereka menuding ‘markas’ Slank tsb sebagai ‘rumah madat’. Suasananya sumpek, kumel, acak-acakan dan dekil. Beberapa remaja yang nongkrong di situ acuh tak acuh, awut-awutan dg sorot mata yang tak bersahabat. Bahkan pada saat itu, sehari2nya Kaka hanya berkaus oblong kutut, bercelana pendek dekil, dan tak beralas kaki.
Meski begitu, di tahun 1995 mereka tetap bisa menghasilkan album kelima yakni ‘MINORITAS’. Album kelima ini menjadi saksi keakraban anak2 Slank dengan narkoba.
Album ‘MINORITAS’ menjadi saksi tanda-tanda perpecahan di dalam tubuh Slank dg formasi paling dahsyat sepanjang sejarah berdirinya Slank. Banyak pengamat menilai album ini tidak sedahsyat karya Slank sebelumnya, baik dari segi musikalitas maupun lirik. Itu terjadi, menurut Bim-Bim, lantaran para personel udah jarang kumpul bersama. Mereka datang kalau ditelepon Bim-Bim aja. “Dalam album ini, gue udah kayak solo karir aja,” cerita Bim-Bim. “Pay datang ngisi gitar, terus pergi. Bongky dan Indra juga begitu,” kata Bim-Bim.
1342947127537941932
Benih-benih perpecahan itu semakin tumbuh. Ketidakcocokan mulai melebar ketimbang memperkuat komitmen awal saat membentuk Slank. Puncaknya adalah ketika Bongky, Indra, dan Pay (sekarang membentuk grup band BIP) harus keluar dari grup yang udah mencengkeramkan pengaruhnya di blantika musik Tanah Air itu. “Slank pecah memang gara-gara mabok,” aku Bongky dan Pay, berbarengan. Menurut Bongky, kondisi Slank saat itu emang udah ga bisa lagi diselamatkan. Sayang emang, formasi Slank yang melahirkan banyak karya bagus dg kualitas musik yg luar biasa mesti pecah.
“Kalau dulu kami itu Slank perjuangan, sekarang Slank selebritas” - Bongky ‘BIP’, ex-Slank -
Bim-Bim dan Kaka, dua personel Slank yang masih tersisa pada saat itu, bertekad terus mengibarkan bendera Slank. Mereka lantas membuat album ‘LAGI SEDIH’ yang merupakan ‘cermin’ dari perasaan mereka pada saat itu.
13429474281924195027
Album tsb dikerjakan bersama dibantu dengan dua musisi tamu yang udah ga asing lagi di daerah Potlot, yakni Ivanka (Bass) dan Reynold (Gitar) sebagai additional player. Formasi empat orang ini sempat beberapa kali manggung. Sayangnya ditengah jalan, Reynold tiba-tiba mengundurkan diri dari Slank. Bim-Bim, Kaka, dan Ivanka kebingungan dg ‘cabut’nya Reynold dari Slank. Apalagi, saat itu mereka punya janji untuk mengadakan konser satu minggu ke depan. Akhirnya, mereka sepakat merekrut gitaris lain. Atas rekomendasi dari Ivanka, maka muncul nama Abdee Negara dan Ridho Hafiedz.
Setelah beberapa kali manggung, Bim-Bim dan Kaka mengumumkan bahwa Ivanka, Abdee, dan Ridho sebagai personel tetap Slank yang baru menggantikan Bongky, Indra dan Pay. Lantas, Slank baru ini pun mulai rekaman dan mengeluarkan album ‘TUJUH’ pada tahun 1997.
Berbeda dengan Slank formasi lama yang cenderung nge-rock, Slank formasi ini cenderung lebih nge-blues. Lirik mereka pun berubah. Tak lagi bercerita soal persoalan anak muda. Mereka udah mulai menyentuh masalah sosial dan politik. Di album ‘TUJUH’ ini juga me’lahir’kan hits ‘Balikin’. Lagu inilah, yang oleh Slankers ditengarai sebagai tekad baru Slank untuk kembali ke ‘jalan yang benar’.
Dari dalam ‘tubuh’ Slank itu sendiri, muncul pemberontakan dari Ridho Hafiedz yang mengancam akan mundur dari Slank jika mereka (Bim-Bim, Kaka dan Ivanka) masih ngobat. Maka dari itu, mereka (Bim-Bim, Kaka dan Ivanka) memutuskan untuk rehabilitasi dalam rangka menyembuhkan ketergantungan mereka terhadap narkoba.
Seperti album2 Slank sebelumnya, album ‘TUJUH’ ini pun lagi2 laku keras di pasaran. Album ini mampu terjual hingga 1 juta kopi lebih. Sayangnya, album ini adalah klimaks dari penjualan seluruh album2 Slank karena penjualan album2 Slank berikutnya mengalami penurunan yg cukup drastis.
1342947505742223177
Slank bukan cuma berubah dalam urusan musik. Gaya berpakaian mereka saat ini pun berubah. Bim-Bim dan Kaka yang dulu tampil kumuh dengan kaus oblong, sandal jepit dan seadanya .

REVOLUSI CINTA SLANK

Rabu, 06 Februari 2013

REVOLUSI CINTA SLANK All foto by @TeguhtART
Hari ini, Rabu 6 Februari 2013, SLANK memasukkan permohonan uji materi terhadap Pasal 15 Ayat 2 (a), Undang-Undang Kepolisian Nomer 2 Tahun 2002 ke Mahkamah Konstitusi. Bunyi pasal tersebut adalah kepolisian mempunyai wewenang “memberikan izin dan mengawasi kegiatan keramaian umum dan kegiatan masyarakat lainnya”.
Ada dua tujuan yang ingin kami capai dari permohonan uji materi tersebut. Pertama, SLANK ingin menjadi bagian dari upaya menegakkan praktek demokrasi di Tanah Air, khususnya untuk bidang kebebasan berekspresi sebagai hak konstitusional warga negara (ekspresi kesenian, termasuk konser musik, adalah salah satu unsur terpenting dalam membangun peradaban Indonesia). Sejak 2008 sampai sekarang, SLANK beberapa kali tidak mendapatkan ijin konser. Ini bukan saja membuat hak konstitusional SLANK untuk berekspresi terganggu tetapi juga hak ekonomi. Dalam konteks hak ekonomi, bukan saja kepentingan SLANK yang terganggu tetapi juga pihak-pihak lain yang terkait dengan konser SLANK seperti promotor, para penjual kaos, asesoris, dan lain-lain. Realitas tersebut membuktikan bahwa konser musik seperti yang dilakukan SLANK adalah bagian integral dari upaya pemerintah untuk mengembangkan Ekonomi Kreatif.  
Tujuan kedua, Slank ingin menggugah kesadaran publik utamanya para pembuat kebijakan dan para politisi agar dapat memperhatikan Kepolisian dalam hal menjaga keamanan khususnya pertunjukan musik. Berdasarkan pengamatan SLANK, keputusan Polisi untuk tidak memberikan izin beberapa kali konser SLANK karena mereka dibayangi kekhawatiran terjadinya kerusuhan. Kekhawatiran seperti ini muncul karena jumlah Polisi di Republik Indonesia memang sangat kurang. Perbandingannya 1:700. Padahal menurut PBB, idealnya adalah 1:300. Apabila jumlah personil Polisi ditambah (rekrutmen baru), maka Polisi akan bisa menjamin hak konstitusional warga negara dalam kebebasan berekspresisebagai bagian dari praktek demokrasi. Dalam konteks ini, para pembuat kebijakan dan elit politisi seharusnya berani mengambil keputusan politik untuk memperkuat POLRI. Dengan demikian, Polisi menjadi profesional dan modern sehingga mereka bukan saja bisa menjamin hak konstitusional warga negara dalam hal kebebasan berekspresi tetapi juga menjadi pilar kokoh bagi tegaknya demokrasi Indonesia. Dengan langkah uji materi ini, SLANK berharap hak konstitusional setiap warga negara untuk kebebasan berekspresi terjamin dan POLRI sebagai pengayom masyarakat menjadi kuat dan profesional. Itulah salah satu REVOLUSI CINTA SLANK. Dengan demikian, setiap warga negara akan dapat memberi sumbangan bagi tegaknya peradaban demokrasi. Khusus buat para slanker dan slanky di seluruh pelosok Tanah Air, mereka juga akan bisa menikmati penampilan SLANK di mana pun dan kapan pun. PISS!!          

DERITA SEORANG MALING


                                                          CERPEN TEGUHT
                                                               BY TEGUHT
Malam yang naas bagi Sukro. Dia terkepung dan tidak bisa lari ke mana‑mana lagi. Pandangan matanya silau oleh sorot lampu‑lampu senter para pengepungnya. Antara rasa ngeri dan putus asa, ia mengharap pertolongan Tuhan di malam itu. Antara rasa ngeri dan putus asa, ia masih sempat memikirkan keadaan istrinya. Wanita itu tergolek tak berdaya di rumah sakit karena terdapat kelainan pada kandungannya. Dokter mengatakan harus dilakukan pembeda­han.
Sukro mengharap Tuhan memaklumi dan memaafkan keja­hatannya di malam itu. Ia mencoba mencuri sepeda di kam­pung tetangganya ini, namun tidak berhasil karena keper­gok. Oh Tuhan, ini terpaksa kulakukan demi istriku, keluh­nya dalam hati.
“Modar kowe saiki! Mau lari ke mana lagi, ha?!”
“Ayo kita cincang dia sekarang!”
Sukro menatap wajah‑wajah pengeroyoknya dengan tatapan nanar. Hatinya gentar. “Ampun, pak. Saya terpaksa. Baru sekali ini saya berbuat. Istri saya perlu biaya di rumah sakit,” ia mencoba memohon belas kasihan dari mere­ka.
“Aaass, tiada maaf bagimu!” sahut salah seorang dari mereka.
“Dia ini pasti yang sering mencuri di tempat kita,” tuduh yang lain. “Sekarang lagi apes kowe, ya!”
“Ayo sikat!” Tiba‑tiba ada yang mengomando. Segera saja tubuh Sukro mendapat gebukan bertubi‑tubi. Kepalan‑kepalan tinju, tongkat, pentungan, tendangan, bahkan batangan besi panjang berganti‑ganti mendarat di tubuhnya. Bak‑buk! Bak‑buk! Dari kepala sampai kaki mereka menghajarnya. Massa yang beringas. Saat itu dalam pandangan mereka barangkali Sukro bukan lagi ‘manusia’. Tapi ia tak beda dengan nya­muk, kecoak atau tikus. Ia seperti binatang menjijikkan yang harus dipithes!
Sukro merasakan tubuhnya remuk‑redam. Pandangannya berkunang‑kunang. Dengan penuh semangat mereka menggebuki­nya sampai berkeringat. Ia sendiri juga berkeringat karena menahan rasa sakit. Tapi keringat yang bercampur darah.
Di malam itu para pengeroyoknya merasa bahwa mereka punya hak untuk langsung memvonis Sukro. “Ayo sekarang kamu ngaku, kamu tho yang selama ini sering mencuri di kampung ini?!” Seorang laki‑laki kekar menarik kerah bajunya dan menginterogasi. Sementara massa berhenti memukulinya.
“Ayo ngomong!” hardiknya sambil mengguncang‑guncang tubuh Sukro. Sukro mencoba mengumpulkan kesadarannya. Ia ingin bicara tapi bibirnya pecah dan beberapa buah giginya rontok.
“Ampun, pak. Bukan saya…,” kata Sukro dengan terengah‑engah.
“Mau ingkar, ya?! Nih rasakan!” sebuah bogem mentah mendarat di pelipisnya dan membuat Sukro mencelat. Ia menggeliat di bawah kaki mereka, berusaha untuk bangun. Lalu ada seorang pemuda menarik lengannya. Ia menahan tubuh Sukro yang berdiri terhuyung‑huyung. Lalu tiba‑tiba ia melepaskan pegangannya dan secepat kilat melakukan tendangan putar. Sekali lagi Sukro terjerembab karena menjadi korban uji coba tendangan putar dari pemuda yang baru saja lulus ujian sabuk hijau tadi.
Beberapa tangan segera menariknya. Belum sampai berdiri, kembali ia dihajar bertubi‑tubi. Sukro tak kuat lagi menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, bahkan ia sudah hampir putus asa untuk  tetap bisa hidup setelah ini. Tapi di dalam benaknya ia masih belum berhenti minta ampun kepada Tuhan. Kalau memang ia harus mati, biarlah, asal di akhirat nanti ia tidak mendapat siksa lagi.
“Sudah! Sudah!” akhirnya ada yang memberi komanda untuk berhenti. “Sekarang kita bawa dia ke rumah Pak Erwe.”
Lalu beramai‑ramai mereka menggiring Sukro yang babak belur itu. Setelah sampai mereka menceritakan keja­dian tadi kepada Pak Erwe.
“Siapa nama kamu?” tanya Pak Erwe.
“Jadi sekarang kamu ngaku nggak kalau kamu itu maling,” desak Pak Erwe kepada Sukro.
“Iya, pak,” sahut Sukro lirih. “Dan dia itu pasti maling yang sering beraksi di kampung kita ini, pak!” langsung disambung oleh salah seorang penangkapnya.
“Benar?” selidik Pak Erwe.
“Tidak, pak. Baru sekali ini karena istri saya butuh biaya untuk melahirkan,” ungkap Sukro.
“Ah, itu kan alasan saja!” sangkal salah seorang dari ‘penonton’.
“Jadi kamu bukan yang sering mencuri di sini?” tanya Pak Erwe.
“Bukan, pak. Saya baru pertama kali ini.”
“Baiklah, akan kita serahkan orang ini kepada po­lisi,” putus Pak Erwe.
“Tunggu dulu, pak. Persoalannya harus jelas, kita harus tahu siapa yang sering mencuri di kampung kita ini!” cegah Bendhul, salah seorang pentholan pemuda di kampung itu. Sementara teman‑temannya yang lainpun mendukung.
“Iya, pak. Agar masyarakat kita tidak resah lagi. Kita harus dapat mengungkapnya.”
“Barangkali pengakuannya itu hanya dibuat‑buat saja supaya kita kasihan.”
“Coba sekali lagi kamu katakan dengan jujur. Kamu ngaku saja. Kamu sering mencuri di sini, nggak?!” Pak Erwe kembali menanyainya.
“Sumpah, pak. Saya baru sekali ini,” bantah Sukro.
“Brengsek kamu ya!” Tiba‑tiba Bendhul menarik kerah Sukro dan menempelengnya.
“Bendhul! Sudah!” Pak Erwe merasa tersinggung atas perbuatannya itu yang dianggap meremehkan kewibawaannya. Sementara Bendhul yang masih meluap‑luap emosinya dipe­gangi oleh orang‑orang di sekitarnya.
“Pak Erwe, kita harus selidiki siapa tahu dia punya kawanan,” kata Bagong.
“Ah sudahlah, itu biar jadi urusannya polisi saja. Lagi pula kalian kan sudah menghajarnya sampai babak‑belur begini. Itu namanya kalian sudah main hakim sendiri. Nah, Ahmad dan Rijal, kalian berdua ikut saya mengantar orang ini ke kantor polisi. Baiklah bapak‑bapak dan saudara‑saudara sekalian, masalah ini kita tuntaskan dulu sampai di sini karena malam sudah larut dan esok hari kita masing‑masing  punya tugas yang harus dikerjakan. Selamat malam,” akhirnya Pak Erwe membubarkan acara interogasi itu.
Mereka pulang dengan pikiran dan perasaan masing‑masing. Ada yang merasa lega karena malingnya tertangkap. Ada juga yang merasa menjadi hero. Tapi ada pula yang masih penasaran seperti Bendhul dan Bagong. Masing‑masing punya cerita untuk esok harinya.
Sukro yang malang kini meringkuk dalam tahanan. Sebuah pekerjaan yang sia‑sia. Bebannya kini bertambah berat. Bagaimana ia harus mencari biaya untuk operasi istrinya? Tubuhnya saja sudah hancur. Belum lagi hukuman pengadilan yang nanti harus dijalaninya. Kuat pulakah istrinya nanti menanggung aib ini di tengah masyarakat? Otaknya tak kuat lagi memikirkan itu semua, ia hampir putus asa.
Oh Tuhan…, suara batinnya tercekat. Hampir saja ia menuduh Tuhanlah dalang dari peristiwa ini. Seandai­nya dia tidak miskin atau seandainya tidak ada kelainan di kandungan istrinya.
Untunglah masih ada sepercik iman yang tersisa di kalbunya. Masih cukup kuat untuk mencegahnya bunuh diri.
Di lain pihak, Pak Erwe termenung memikirkan kejadi­an semalam. Biasanya dia sendiri juga ikut menghajar kalau ada maling yang tertangkap basah seperti si Sukro itu. Tapi tadi malam sebelum Sukro digelandang ke rumahnya, tiba‑tiba ada sepercik kesadaran di hatinya. Tentang apa saja yang telah dikerjakannya selama ini. Ia yang tidak peduli dalam mencari nafkah, halal atau haram. Korupsi, kolusi, manipulasi… semua pernah dilakukannya.
Ia tahu perbuatan seperti itu sangat tercela dan berdosa. Tapi di jaman ini bukan dia sendiri yang begitu. Hal ini sudah umum, lumrah. Orang‑orang yang berusaha untuk jujur sudah langka. Dan kalau ada, mereka sulit untuk berkembang dalam kehidupannya. Bukankah hidup di tengah masyarakat, kita harus punya prestise agar dihar­gai?
Tapi tadi siang hampir saja ia tewas digilas oleh truk ketika sepeda motornya selip di tengah jalan. Untunglah tubuhnya terguling di kolong truk itu, di antara roda‑rodanya. Ia selamat dan sepeda motornya juga selamat karena terseret aspal ke tepi jalan. Ia dan sepeda motor­nya tidak tergilas oleh truk itu!
Kejadian itu berlangsung di depan sebuah masjid tepat pada saat adzan zuhur. Sebagai ungkapan rasa syukur­nya ia mampir ke masjid itu untuk menghadap kepada Allah. Ketika itu ia begitu takut pada kematian. Dalam doanya, ia sampai bercucuran air mata karena haru dan syukur. Peris­tiwa itu telah membuatnya berpikir pada malam harinya. Ia merasa malu kepada Tuhan. Ia juga malu kalau ada orang lain yang mengetahui perbuatannya selama ini. Bahkan ia juga malu terhadap teman‑temannya yang sama‑sama koruptor atau pernah diajak kolusi.Lalu datanglah Sukro yang digi‑ring oleh orang banyak ke rumahnya. Sukro yang maling sepeda itu. Baru sekali mencuri tapi apes nasibnya. Mena­tap Sukro seperti menatap bayangannya di cermin. Tapi Sukro terlalu bagus untuk jadi bayangannya! Apalagi ketika benar terbukti istri Sukro menjalani bedah caesar di rumah sakit. Sukro mencuri karena terpaksa. Sedangkan dia, dia mencuri karena merasa masih kurang dan dengan cara yang lebih licik.
Sementara itu Bendhul dan Bagong, dua orang di antara pentholan pemuda kampung itu, menjalani hari‑hari­nya dengan biasa. Mereka tak punya pekerjaan tetap selain berjudi dan teler. Kadang‑kadang jadi makelar di antara teman‑temannya. Tapi lebih sering mereka mencuri ke kam­pung tetangga atau mengompas orang. Mereka berdua dan teman‑temannyalah yang paling bersemangat menghajar Sukro di malam itu. Maling berteriak maling, maling menghajar maling.
Sedangkan Prakoso, pemuda yang baru lulus ujian sabuk hijau, dengan bangga bercerita kepada teman‑teman­nya, terutama pacarnya, tentang kisah keberaniannya me­nangkap maling. Bagaimana ia memburu maling dan mengepung­nya bersama orang banyak. Dan tidak ketinggalan pula diceritakan bagaimana tendangan putarnya berhasil meroboh­kan si maling.
Sukro dijatuhi hukuman tiga bulan kurungan. Malang nasibnya. Tapi masih ada satu orang yang kasihan dan mau membantu kesulitannya. Seluruh ongkos perawatan dan opera­si istrinya ditebus oleh Pak Erwe. Tuhan, ampunilah dosa‑dosaku selama ini. Inilah sebagian uang rakyat yang kukem­balikan kepada mereka, bisiknya lirih dalam hati.

Minggu, 03 Februari 2013

butiran penyesalan penuhi ruang hampa ini, banjiri aliran darahju, membentuk percikan empun putih kesejukan jiwa nan rapuh .. . mungkin dia bukanlah orang yang hanya mempunyai 2 hati . . tapi cuma kali ini saja ku minta pedanya . .
untuk mengenang jasa dan rintihan keinginan yang q miliki . . hanya 1 dai 1000 mungkin yang membuatmu beda darinya . . dara terbangun pagi itu . . membuka jendela agar udara sejuk di luar bisa msuk dan menggantikan pengapny udara yang semalaman terisi oleh co2 itu . .
ruinitasnya kini mulai ia jalankan kembali, menuntut ilmu dan bersekolah . . selesai sarapan pagi dan bersiap, dara memanaskan motor bebek yang sudah 3 tahun menemaninya, sambil

Bidadariku

Selasa, 22 Januari 2013


Bidadariku
by:teguht

pagi buta saat semua anak dikelasnya sibuk menyalin pe-er dikelas ardhi tampak gelisah mondar mandir didepan kelas sesekali wajahnya menatap kearah pintu gerbang dan wajahnya pun kembali murung. wajah ardhi semakin

cemas saat matahari mulai meninggi.. dan wajahnya mulai cerah saat dia melihat seorang gadis manis dengan tas

selempang berjalan kearahnya.. gadis itu zara gadis yang sedari pagi dia tunggu-tungu kehadiranya dengan mimik

sumringah ardhi menyambutnya.. "hai kemana aja sih jam segini baru datang aku kan kuatir ntar kamu telat trus dihukum" koar ardhi begitu

zara ada didepannya. zara tampak bersikap dingin dan mengambil sesuatu dari dalam tas selempangnya , zara mengeluarkan buku tugas

kimianya lalu menyerahkannya pada ardhi.

"udah gak usah basa-basi kamu nungguiin aku mau nyontek pe-er kan nich..." ujar zara dingin.

" hee hee tau aja kamu,, abis semalam aku ketiduran" bales ardhi cengengesan.

"ketiduran kok tiap hari bilang aja.. males buruan salin deh ntar keburu masuk lagi "

" ya udah ku nyalin dulu ya makasih he..he"

"iya " ujar zara males karna udah hampir tiap hari ardhi selalu begitu, manis saat ada butuhnya..

ardhi melesat pergi mencari tempat yang aman untuk menyalin tugas . sementar zara masuk kedalam kelas yang riuh oleh mahluk2 malas yang

belum mengerjakan pe-er . mereka duduk menbundar mengelilingi sebuah buku yg pe-ernya sudah dikerjakan. sambil sesekali melirik jam

dinding lalu buru-buru kembali menyalin dengan raut muka yang pucat pasi takut bel keburu berbunyi .. sebelum mereka sempat menyalin

semua .. ditengah kapanikan teman 2nya yang saling tarik - buku catatan itu .. tiba2 ardhi muncul sambil menggedor-gedor papan tulis.

"to..tok huh gimana negara kita mau maju kalo terus-terusan begini.. pe-er dikerjakan dirumah hoi.." koar ardhi menambah panik seluruh

suasana yang langsung mendapat reaksi keras dari temen2nya yang kalang kabut menyalin tugas disisa-sisa waktu mereka.

"huuuuuh kayak lo ya nggak aja..!"Protes anak-anak sewot campur panik

ardhi berjalan penuh kemenangan diantara kerumunan temen_temannya yang panik bukan kepalang membayangkan seandainya tidak selesai

 menyalin bakalan digantung MR . yon sebutan mereka untuk guru kimia mereka yang galaknya naudubilliah.. ia langsung menghampiri zara

yang tersenyum geli melihat tingkah ardhi.

"huh makasih ya za atas pengertian lo..! nih bukunya " ujar ardhi yang menyalin lebih cepat karena bukunya gak rebutan dan emang sudah

terbiasa nyalin pe-er dengan waktu yang singkat

"perez lo kalo gini aja maniis banget ! coba kalo gak butuh pasti aku cuekin, dasar"

"ow-ow nggak akan dan mungkin ardhi nyuekin gadis multi talent kayak kamu za" koar ardhi dengan rayuan basinya, karna zara udah terlalu

sering digituin .

"ugh ga ada yang lain apa"

"hee belum ngarang nich kasih ide donk..! " koar ardhi cengngesan.

"mmm dhii!" panggil zara malu-malu.

" apaa!"

" aku bisa minta tolong nggak ? tapi kalo nggak bisa juga nggak papa koq" ucapnya ragu-ragu.

" ya ampun za.. ! kalo aku bisa pasti aku mau apaan sih" tanya ardhi penasaran .

"bener nih"

" yakin deh.. apasih yang nggak buat lo auww"

tiba-tiba ardhi di cubit keraas sama zara.

" gombal.. lo..! mm ntar sore anterin ketoko bukunya bisa kan " pinta zara penuh harap.

" ntar sore" ardhi tampak mikir2 sementara zara berharap2 cemas.. " bisa ..! aku anterin" ujar ardhi mantap.

" bener loya awas lo..! jam tiga sore yaa"

" siip! tapi beliin bensin ya lagi bokek nih hee hee!" ujar ardhi cengengesan.

"dasar pelit ! kalo buat cewek lain aja nggak bokek"
-------------------- ----------------------- ---------------------------------------------

dan benar sore hari ardhi menepati janjinya mengantarkan zara ketoko buku mereka berpisah zara sibuk dirak buku tentang sains sementara

ardhi sibuk membaca komik sinchan yang sudah kebuka dasar nggak mau rugi ardhi membaca dengan asyiknya tanpa ada rencana buat beli.

hinga akhirnya ada tangan lembut yang menyentuhnya.

"hei dhii balik yuk" ujar zara mengagetkan ardhi yang lagi asyik baca komik.

" eh udah selesai za nyari bukunya cepet amat"

" ya aku kasian ma kamu pasti bosen nungunya"

"nggak koq' justru aku seneng jadi bisa baca komik gratis hee hee"

zara tersenyum geli melihat ardhi yang udah gede ternyata masih suka baca sinchan.

"sukur deh nih aq ad sesuatu buat kamu.." ujar zara menyerahkan sebuah buku kumpulan rumus-rumus ipa..

"oh makasih za. kebetulan aku juga nyari buku ini lo" ujar ardhi basa basi padahal baru liat sampulnya aja ardhi udah pusing2 belum menbaca

bisa meriang dia.  tapi karena zara yang ngasih ardhi pura-pura suka.

" dhi aku ngasih ini berharap dengan ini kamu mulai mau ngerjain tugas-tugas kamu sendiri..! jangan ngandalin aku terus bentar lagi kan UAN..

maaf ya dhi bukannya aku gak mau nyontekin kamu terus tapi aku pengen kamu sukses dhi..! karna aku nggak mungkin akan bantuain kamu

ngerjain tugas terus" terang zara panjang lebar , membuat ardhi terdiam tak menyangka zara sebegitu memikirkanya, ardhi jadi merasa

bersalah selama ini hanya memanfaatkan zara yang begitu baik padanya.

ardhi masih terdiam tak bisa berkata-kata apa-apa lagi.

"dhi maaf kalo aku nyinggung kamu, kamu boleh koq nggak nerima ini,, dan nyegat aku tiap pagi buat nyontek pe-er" ucap zara merasa nggak

enak hati melihat ardhi hanya terdiam.

"huuuh kamu bener za aku nggak bisa terus ngandalin kamu ! suatu saat aku harus berdri sendiri maksih atas bukunya .. kamu mau kan nganjari aku"

"pasti dhi......! asal ada uang privatnya aja hee hee" ujar zara cengengesan.

"dasar...!"

------------------ --------------------------- ------------------------------------

zara berjalan santai menuju kelasnya pagi ini
 ardhi masih menyegat dia untuk nyontek pe-er tapi makin jarang-dan jarang ,sampai akhirnya tak pernah lagi menunggu didepan kelas untuk

nyalin pe-er lagi walau zara kadang merasa kehilangan tapi dia senang melihat ardhi bisa berubah.

ardhi tiba-tiba menghampiri bangku zara sesuatu yang belakangan jarang dilakukannya.

"hai za"

" ardhi tumben..! da perlu apa nih" ujar zara yang sebenarnya kangen semenjak ardhi bisa ngerjai semua sendiri ia jadi jarang nyamperin zara
lagi.

"aku kesini gak pengen bicara soal pelajaran lagi .tapi pengen ngajak kamu nonton mau ya.. ya..!" ujar ardhi sambil mengedip-ngedipkan mata

konyol.

"boleeh" jawab zara sanbil tersenyum super manis pada ardhi, ungkapan rasa kangen belakangan jarang berbincang....



Pengunjung

Pengikut

Mengenai Saya

Foto saya
cilacap, cilacap,jateng, Indonesia
maju terus pantang mundur