slank imagine
Rabu, 13 Februari 2013
PULAU
BIRU : TEMPAT NGEGOJLOK MENTAL ORANG
Pulau
Biru yang jadi judul lagu di album Kampungan, adalah nama lain untuk
komunitas di Jalan Potlot III/14 Pasar Minggu Jakarta Selatan. Nama ini
muncul setelah Slank melepaskan diri dari Budhi Soesatio. Jadi hampir
nggak mungkin ngomongin Slank tanpa menyinggung Pulau Biru. Dari awalnya
sebuah komunitas, Pulau Biru berkembang jadi rumah produksi (Pulau Biru
Production), sekitar pertengahan 1994. Lewat rumah produksi inlah segala
aktivitas dikendalikan. Mulai urusan kontrak artis, fans club,
merchandise sampai ke soal manajemen lainnya. Bertindaks sebagai
direktur adalah Denny, mantan pemain bass Slankyang juga sepupu Bimbim,
Kaka dan Rere. Meski bernuansa urakan, Pulau Biru memiliki struktur
organisasi cukup jelas. Hak kepemilikannya dipegang Slank, Denny, Bunda
dan Rustam Rastamanis. Buat memperlancar bisnis, Pulau Biru membuat tiga
divisi, yaitu manajemen artis, fans club dan rekaman (Piss Record).
Seabrek
anak kreatif lalu ngumpul disini. Ada revi Temo (tukang ngurusin Buletin),
Oche Van Jose (manajer Slank dan Imanez), Dimas Djayadiningrat (spesialis
coretan nyentrik, antara lain album Generasi Biru), Ferry Pengen (humas),
Budi (nongkrongin mixer kalo Slank atau artis Pulau Biru lainnya lagi
manggung), Dade (komandannya Kidnap Katrina dan Oppie). Karakter bisnis
Pulau Biru persis kayak perangai anak-anak Slank yang sponatn dan
slengean. Struktur kepengurusannya berubah-ubah secara spontan,
tergantung kebutuhan atau ide yang muncul pada waktu itu. Oche, misalnya,
sekali waktu bisa saja ngurusin Oppie. Sementara Dade pindah jadi pemain
bas BOP (Bandnya Oppie). Begitu seterusnya.
Denny
pun nggak terlalu lama menyandang jabatan manajer. Posisinya diambil
alih Oche, dari Oche kemudian pindah ke Abi Rahmat Akbar. Abi keluar,
digantikan Ila, adik bungsu Bimbim. Tu cewek juga Cuma sebentaran. Dia
mundur karena dilamar orang. Penggantinya adalah Lulu Ratna yang adik
Gugun Gondrong itu. "Sewaktu Ila keluar masih ada kontrak Slank
yang belum kelar. Sedang Bimbim menganggap Bunda belum mampu menangani
Slank," papar Bunda Iffet. Jadi, keterlibatan Lulu yang Cuma
berlangsung empat bulan itu kurang lebih untuk menyelesaikan sisa
kontrak antara September hingga Desember 1997. Begitu kelar, dia pun
cabut. Penggantinya adalah Stevie, yang langsung membawahi Slank formasi
Ridho – Abdee. Toh meski diakui cara kerjanya professional, Slank
rupanya nggak begitu klop sama Stevie. "Beberapa acara yang dia
bikin cukup sukses. Cuma gagasannya terlalu banyak yang musti segera
direalisir. Percepatan itu nggaks sesuai dengan gaya Slank," kata
Bimbim.
"Disamping
itu, kami pingin setiap hari dia muncul di Potlot, ternyata nggak
sanggup. Memang sih, manajer nggak musti saban hari dating. Tapi waktu
itu kami ngebutuhin dia," tambah Abdee Negara. Masa kerja Stevie
lebih singkat dari Lulu Ratna : Cuma satu bulan! Setelah beberapa kali
pergantian itu, akhhirnya Bunda Iffet turun tangan mengendalikan
manajemen Slank. Nggak nyombong, Bunda lah yang paling ditakuti personel
Slank. Setidaknya, Cuma Bunda yang sanggup "mengeluarkan"
Bimbim atau Kaka dari kamarnya. Kenapa Slank begitu sering gonta-ganti
manajer ? Menurut Bunda, kebanyakan ortu menganggap kerjaan manajer
artis nggak lebih dari sekedar hobi. Abi,satu contoh, akhirnya memilih
kerja kantoran sesuai permintaan ortunya.
Seiring
dikeluarkannya Pay, Bongky dan Indra, satu per saut pengurus Pulau Biru
mulai ngilang. Orang yang paling akhir cabut adalah Rustam Rastaman,
cowok mungil yang pernah begitu aktif. Kini pengurus Pulau Biru praktis
tinggal lima orang : Bunda (manajer), Ina (asisten), Ani (sekretaris),
‘Nti (merchandise) dan Masto (teknik). "Mereka mendapat gaji
bulanan dan tiap kali habis proyek pasti dapat bonus." Kata Bunda.
Biaya operasional manajemen Pulau Biru diperoleh dari hasil penjualan
merchandise dan potongan 5 persen untuk setiap kontrak Slank atau artis
lainnya. Tapi melihat lonjakan harga bahan baku sekarang ini, Bunda
berencana untuk bikin perubahahan prosentase. Dengan popularitas Slank
yang luar biasa, sebenarnya bisnis merchandise Pulau Biru menjanjikan
keuntungan yang nggak kecil. Tapi menurut Bimbim keuangan ruamh produksi
tersebut tetap kososng, kalo nggak mungkin ditulis bangkrut. Lho ?
"Kami terlalu percaya sama orang," sambungnya. Dia nggak
merinci lebih jauh. Jadi ya kamu cari tau sendiri maksud jawaban
tersebut.
Sekarang
dengan Bunda sebagai komandan, pulau Biru kelihatannya berusaha menata
kembali manajemen. Sosok yang nggak lagi bisa dibilang muda itu, dibantu
Sarina, tampaknya tertantang untuk bertindak adil. Salah satu hal yang
bikin runyam adalah tradisi kasbon (minjem duit). Ia menolak menyebut
siapa saja personel Slank yang paling sering kasbon. "Kalo yang
udah berkeluarga nanti dia malu, nggak usah disebutin," elaknya
sembari tersenyum. Ah Bunda lupa, kalo Cuma ngitung anak Slank yang udah
berkeluarga kan gampang! Jawaban khas ortu ini sekaligus menunjukan
bahwa karakter bisnis Pulau Biru sebenarnya mendua. Orang-orangnya
berusaha professional, tapi roda bisnis yang sekarang dijalankan masih
bersifat kekeluargaan. "Unsur kekeluargaan di Slank memang dominan
banget," komentar Lulu Ratna yang memilih berada di luar pagar.
Entah
ada hubungannya atau nggak, mereka yang mental dari Pulau Biruumumnya
yang nggak punya hubungan sodara. Toh Bimbim melihatnya dari sudut
pandang lain. " Pulau Biru adalah tempat menggodok mental artis.
Yang kuat bakal melejit, sebaliknya yang nggak kuat bakal jadi gila."
Bimbim mungkin cuma bercanda. Tapi maksudnya jelas, dalam hal apapun
tetap dibutuhkan totalitas. Nah siapa yang mentalnya kuat dan siapa yang
nggak, kamu cari sendiri jawabannya. Cuma yang musti diingat, kehadiran
Pulau Biru sudah memberi sumbangan cukup berarti buat dunia musik kita.
(Hai Klip Slank Okt 98).
Terlalu Manis Untuk Dilupakan dari Slank (Sebuah Catatan Singkat Perjalanan Slank)
Senin, 11 Februari 2013
“Jujur aja, mental kami (pada saat itu) nggak siap. Tiba-tiba
segala hal jadi mudah. Orang-orang yang tadinya nggak asik sama kita,
jadi asik.” - Bim-Bim, Drumer SLANK -
Bim-Bim, Drumer SLANK -
Pada saat anak2 seusianya pada saat itu bercita-cita jd presiden,
dokter atau insinyur, Bimo Setiawan Sidharta (17 tahun) yg akrab
dipanggil Bim-Bim justru malah bercita-cita menjadi seorang drummer
sampai pada akhirnya ia mulai membentuk grup band Slank 28 tahun silam.
Saat itu, Slank emang lagi menikmati ketenaran. Setiap panggung
pertunjukannya selalu dipenuhi penonton. Para Slankers seperti tak
bosan-bosannya menghadiri pertunjukan yang mereka adakan. Album
ketiganya yang diberi nama ‘PISS’ (1993) lagi2 laris manis, begitu juga
album keempat ; ‘GENERASI BIRU’ (1994) yang melahirkan lagu2 hits
seperti ‘Kamu Harus Pulang’ dan ‘Terbunuh Sepi’.
Bim-Bim dan Kaka, dua personel Slank yang masih tersisa pada saat itu,
bertekad terus mengibarkan bendera Slank. Mereka lantas membuat album
‘LAGI SEDIH’ yang merupakan ‘cermin’ dari perasaan mereka pada saat
itu.
Slank bukan cuma berubah dalam urusan
musik. Gaya berpakaian mereka saat ini pun berubah. Bim-Bim dan Kaka
yang dulu tampil kumuh dengan kaus oblong, sandal jepit dan seadanya .
Bim-Bim, Drumer SLANK -
Bim-Bim udah ngerasa bosan
terus-menerus membawakan lagu milik orang lain sehingga ia membentuk
grup band Slank. Sebelumnya, ia udah pernah membentuk grup band bersama
teman2 sekolahnya di Perguruan Cikini yg bernama Cikini Stone Complex
(CSC), yang beranggotakan Bim-Bim (Drum), Boy (Gitar), Kiki (Gitar),
Abi (Bass), Uti (Vokal) dan Well Welly (Vokal), tapi, ya itu tadi,
bisanya cuma membawakan lagu orang lain. “Gue bosen jadi plagiat,” begitu kata Bim-Bim.
Mereka sering membawakan lagu2 Rolling Stones yang juga merupakan idola mereka.
Di tengah jalan, beberapa dari mereka keluar dengan berbagai alasan.
Dengan diiringi keuletan dan tekad yang kuat dari seorang Bim-Bim untuk
menggapai cita-citanya menjadi seorang drummer sebuah grup band, maka
ia pun membentuk sebuah band lagi bersama kedua saudaranya Denny dan
Erwan serta mengajak Bongky Marcel sebagai gitaris baru yang pada saat
itu tercatat sebagai gitaris Cockpit Junior Band dan mereka memutuskan
utk membentuk grup band baru yg dinamakan ‘Red Evil’ dg formasi Bim-Bim
(Drum), Bongky (Gitar), Kiki (Gitar), Denny (Bass), dan Erwan (Vokal)
dan merekapun udah mulai berani memainkan lagu2 mereka sendiri.
Penampilan mereka yang cenderung
slenge’an dan seadanya diatas panggung, membuat para penonton dan
teman2 mereka menyebut mereka band slenge’an dan mulai saat itulah nama
band mereka berubah menjadi SLANK. Sebenarnya, Slank dibentuk dengan
tujuan sederhana yaitu bisa manggung dg lagu sendiri dan berharap bisa
masuk dapur rekaman.
Tapi, meski udah membuat lagu sendiri,
mereka ga bisa dengan mudah masuk dapur rekaman. Lima anak muda ini
udah mendatangi beberapa perusahaan rekaman, tapi ga satu pun yang
ambil peduli. “Alasannya, musik kami nggak bisa dijual,” kenang Bim-Bim.
Saat itu dunia rekaman Indonesia sedang
ramai dengan musik rock-nya Nicky Astria dan Ikang Fawzy, pop
kreatifnya Dedi Dhukun, dan juga pop melankolisnya Rinto Harahap plus
Obbie Mesakh. Musik Slank yg ga masuk tiga kategori itu dianggap ga
bisa menghasilkan keuntungan. Slank sempat frustrasi. Lantas mereka
mencoba berkompromi dengan selera pasar. “Kami membuat lagu rock yang mirip-mirip lagunya Ikang Fawzy,”
kata Bim-Bim. Sayangnya, meski udah kompromi begitu, lagu-lagu Slank
tetap dinilai ga layak rekaman. Alasannya sama yaitu tidak komersil.
Selama menawarkan demo rekamannya itu,
personel Slank pun berganti-ganti. Alasannya beragam, ada yang pengen
meneruskan sekolah atau juga ada yang capek dengan kondisi band yang
gitu-gitu aja. Pergantian personel emang udah menjadi kebiasaan dalam
band ini, bahkan ada formasi Slank yang dibentuk khusus cuma untuk
manggung disebuah acara ‘hajatan’.
Tercatat udah sekitar 13 kali Slank
mengalami gonta-ganti personel. Bersama Bongky, Bim-Bim masih terus
bertahan mengibarkan bendera Slank dan terus-menerus gonta-ganti
personel, hingga akhirnya mereka bertemu dg Parlin Burman Siburian
(Pay), Indra Chandra Setiadi (Indra Qadarsih) dan Akhadi Wira Satriaji
(Kaka) yang juga merupakan sepupu dari Bim-Bim dan kemudian merekapun
bergabung bersama Bim-Bim dan Bongky didalam Slank.
Setelah melalui proses yang sangat
panjang, pada akhir tahun 1980-an, Slank dg formasi Bim-Bim (Drum),
Bongky Marcell (Bass), Pay (Gitar), Kaka (Vokal), dan Indra Qadarsih
(Keyboard) yang akhirnya berhasil membawa Slank masuk ke dapur rekaman.
Pay yang berjasa besar mengantarkan
Slank berkenalan dengan Boedi Soesetyo, yang pada akhirnya menjadi
manajer Slank. Ceritanya, selain bermain untuk Slank, Pay kadang juga
bermain gitar mengiringi artis lain untuk rekaman.
Nah….suatu ketika, Pay mengisi gitar
untuk album Nike Ardilla. Saat itu, Nike sedang ditangani produser
Ichwan dan Boedi Soesetyo. Setelah tugasnya selesai, Pay menawarkan
bandnya sendiri yakni Slank supaya bisa diberi kesempatan untuk
rekaman. Ia lantas memperdengarkan demo Slank kepada dua produser ini.
Tak disangka, dua orang ini tertarik. Langsung aja Slank pun diajak
rekaman. Tapi di tengah jalan, Ichwan mundur. Jadilah Boedi sendirian
yang menjadi produser.
Slank pun akhirnya masuk dapur rekaman
dan berhasil merilis album pertama yang bertajuk SUIT-SUIT…He…He…(GADIS
SEXY). Album yang keluar pada tahun 1990 ini ternyata laku keras.
Album ini pun yang membuat Slank mendapatkan penghargaan di BASF Award
1991 sebagai ‘Artis Pendatang Baru Terbaik’.
Musiknya yang garang ditambah dengan lirik yang ’semau gue’, ternyata disukai banyak orang. “Kami cuma cerita yang ada di sekeliling kami,”
kata Bimbim, yang memang paling sering memberi ide lirik lagu Slank.
Di album pertamanya, Slank juga tanpa sungkan menunjukkan jati diri
mereka yang sebenarnya, seperti yang mereka tuangkan dalam lagu yg
berjudul ‘Memang’.
Walaupun usia para personel Slank pada
saat itu masih sangat muda (bahkan Kaka dan Indra pada saat itu masih
berusia belasan), Slank mampu mendobrak tradisi lirik musik Indonesia
yang bersopan santun dalam tata bahasa. Dalam hal musik,di album
pertamanya ini, mereka juga mencampur semua jenis musik. mulai dari
rock yang hingar-bingar dalam lagu ‘Suit-suit…He…He…He…’, blues di lagu
‘Apatis Blues’, sampai rock manis di lagu ‘Maafkan’.
Slank bukan cuma ’semau gue’ dalam
musik dan lirik lagu2nya, gaya berpakaian mereka pun sembarangan.
Sandal jepit, kaus oblong dan celana jins belel (kadang2 celana pendek)
adalah ’seragam’ sehari-hari mereka pada saat itu.
Bahkan pada saat itu, penampilan
keseharian Kaka sang vokalis malah lebih mirip anak gelandangan
daripada seorang vokalis grup band terkenal yang digandrungi remaja
penggemar musik saat itu. Mereka juga tanpa sungkan memakai
’seragam’nya itu di mana aja.
Pernah, dalam suatu acara penghargaan
musik di tahun 90-an, biasanya para artis yang datang mengenakan
pakaian dari perancang busana ternama, justru sebaliknya pada saat itu
Kaka malah datang dengan memakai kaus kostum timnas sepak bola Brasil,
bercelana pendek, dan bersandal jepit.
Boedi ternyata produser yang jeli. Ia
melihat gaya anak2 Slank yang se’mau’nya dan tidak mengindahkan aturan
ini bisa dijual. Boedi pun lantas mengimbau anak2 Slank agar jangan
mengubah gaya berpakaian ataupun gaya hidup mereka. “Kami disuruh jadi diri sendiri. Wah, rasanya senang banget,” kata Kaka. “Kami bahkan dilarang membaca buku-buku yang puitis seperti bukunya Kahlil Gibran untuk menulis lagu,”
Bim-Bim menambahkan. Maka dari itu, semakin menjadilah Slank sebuah
band baru dengan semangat pemberontakan. Bukan cuma dalam soal musik,
tapi juga untuk urusan gaya hidup.
Pada tahun 1992, Slank mengeluarkan
album kedua yg mereka beri nama ‘KAMPUNGAN’. Album ini pun laku keras.
Gaya musiknya semakin ’semau gue’, tapi tetap enak didengar dan
menyiratkan kecerdasan bermusik.
Coba denger lagu ‘Nina Bobo’. Didalam
lagu ini, mereka berlima bersama-sama bernyanyi lagu tidur Nina Bobo dg
hanya diiringi permainan keyboard ‘cerdas’ ala Indra Qadarsih.
Gilanya, mereka memasukkan suara dengkur keras sebagai latar belakanqg
nyanyiannya. Kegilaan lainnya lagi ada pada lagu ‘Bali Bagus’ yg
diakhir lagu tsb, mereka memasukan suara Kaka yang lagi mabok berat.
Di Album ini juga hits ‘Mawar Merah’ dan ‘Terlalu Manis’ yg melegenda
itu tercipta. Dua lagu yang seolah-olah udah menjadi lagu wajib Slank
saat konser sampe saat ini.
Sukses Slank diikuti dengan banyaknya
musisi yang berdatangan ke ‘markas’ Slank di Jalan Potlot, Duren Tiga,
Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Banyak musisi dan penyanyi yg ga cuma nongkrong,
tapi jg ber’guru’ disana seperti Anang Hermansyah, Oppie Andaresta,
Thomas ‘GIGI’ , Eki Lamoh (ex-Edane), Anda ‘Bunga’, Well Welly, Alm.
Imanez, Ivanka, Baron, Flowers band, Alm. Andy Liani, Ipang ‘BIP’ dll.
Merekapun juga mengawali kariernya di tempat ini.
Sehingga jadilah tempat tsb sbg
‘markas’ Slank, yang sebenarnya tempat tsb adalah rumah orangtua
Bim-Bim. Setiap hari tempat tsb selalu ramai dikunjungi para musisi,
ditambah para Slankers yang sekadar ingin berdekatan dengan para
idolanya itu.
Bim-Bim mengaku kaget dengan kenyataan ini. “Jujur aja, mental kami nggak siap,” katanya. Menurut dia, bisa rekaman aja udah lebih dari cukup. Ia ga siap dengan popularitas. “Tiba-tiba segala hal jadi mudah. Orang-orang yang tadinya nggak asyik sama kita, jadi asyik,” kata Bim-Bim lagi.
“Slank pecah memang gara-gara mabok” - Bongky ‘BIP’, ex- Slank -
Kesuksesan ini nyatanya berpengaruh
pada gaya hidup anak-anak Slank. Entah siapa yang memulai, mereka
mulai akrab dengan putaw, narkotik jenis heroin. Keakraban mereka
dengan narkotik melebihi keakraban antarpersonel band. Lima anak muda
yang biasanya selalu bersama-sama di rumah Bim-Bim mulai asik
sendiri-sendiri. Band pun mereka lupakan.
Badan para personel Slank pada saat itu
udah makin tak berdaging alias kurus kering, loyo, mata kuyu, jarang
tidur, hidup kacau, ga keurus dan yang paling parah adalah mereka
semakin menjadi seorang pemadat berat. Ga ada hari tanpa drugs dan alkohol. Makin mabok, terasa makin asik dan lebih rock n’ roll.
Para tetangga mereka menuding ‘markas’
Slank tsb sebagai ‘rumah madat’. Suasananya sumpek, kumel, acak-acakan
dan dekil. Beberapa remaja yang nongkrong di situ acuh tak
acuh, awut-awutan dg sorot mata yang tak bersahabat. Bahkan pada saat
itu, sehari2nya Kaka hanya berkaus oblong kutut, bercelana pendek
dekil, dan tak beralas kaki.
Meski begitu, di tahun 1995 mereka
tetap bisa menghasilkan album kelima yakni ‘MINORITAS’. Album kelima
ini menjadi saksi keakraban anak2 Slank dengan narkoba.
Album ‘MINORITAS’ menjadi saksi
tanda-tanda perpecahan di dalam tubuh Slank dg formasi paling dahsyat
sepanjang sejarah berdirinya Slank. Banyak pengamat menilai album ini
tidak sedahsyat karya Slank sebelumnya, baik dari segi musikalitas
maupun lirik. Itu terjadi, menurut Bim-Bim, lantaran para personel udah
jarang kumpul bersama. Mereka datang kalau ditelepon Bim-Bim aja. “Dalam album ini, gue udah kayak solo karir aja,” cerita Bim-Bim. “Pay datang ngisi gitar, terus pergi. Bongky dan Indra juga begitu,” kata Bim-Bim.
Benih-benih perpecahan itu semakin
tumbuh. Ketidakcocokan mulai melebar ketimbang memperkuat komitmen awal
saat membentuk Slank. Puncaknya adalah ketika Bongky, Indra, dan Pay
(sekarang membentuk grup band BIP) harus keluar dari grup yang udah
mencengkeramkan pengaruhnya di blantika musik Tanah Air itu. “Slank pecah memang gara-gara mabok,”
aku Bongky dan Pay, berbarengan. Menurut Bongky, kondisi Slank saat
itu emang udah ga bisa lagi diselamatkan. Sayang emang, formasi Slank
yang melahirkan banyak karya bagus dg kualitas musik yg luar biasa
mesti pecah.
“Kalau dulu kami itu Slank perjuangan, sekarang Slank selebritas” - Bongky ‘BIP’, ex-Slank -
Album tsb dikerjakan bersama
dibantu dengan dua musisi tamu yang udah ga asing lagi di daerah
Potlot, yakni Ivanka (Bass) dan Reynold (Gitar) sebagai additional player.
Formasi empat orang ini sempat beberapa kali manggung. Sayangnya
ditengah jalan, Reynold tiba-tiba mengundurkan diri dari Slank.
Bim-Bim, Kaka, dan Ivanka kebingungan dg ‘cabut’nya Reynold dari Slank.
Apalagi, saat itu mereka punya janji untuk mengadakan konser satu
minggu ke depan. Akhirnya, mereka sepakat merekrut gitaris lain. Atas
rekomendasi dari Ivanka, maka muncul nama Abdee Negara dan Ridho
Hafiedz.
Setelah beberapa kali manggung, Bim-Bim
dan Kaka mengumumkan bahwa Ivanka, Abdee, dan Ridho sebagai personel
tetap Slank yang baru menggantikan Bongky, Indra dan Pay. Lantas, Slank
baru ini pun mulai rekaman dan mengeluarkan album ‘TUJUH’ pada tahun
1997.
Berbeda dengan Slank formasi lama yang
cenderung nge-rock, Slank formasi ini cenderung lebih nge-blues. Lirik
mereka pun berubah. Tak lagi bercerita soal persoalan anak muda. Mereka
udah mulai menyentuh masalah sosial dan politik. Di album ‘TUJUH’ ini
juga me’lahir’kan hits ‘Balikin’. Lagu inilah, yang oleh Slankers
ditengarai sebagai tekad baru Slank untuk kembali ke ‘jalan yang
benar’.
Dari dalam ‘tubuh’ Slank itu sendiri,
muncul pemberontakan dari Ridho Hafiedz yang mengancam akan mundur dari
Slank jika mereka (Bim-Bim, Kaka dan Ivanka) masih ngobat. Maka dari
itu, mereka (Bim-Bim, Kaka dan Ivanka) memutuskan untuk rehabilitasi
dalam rangka menyembuhkan ketergantungan mereka terhadap narkoba.
Seperti album2 Slank sebelumnya, album
‘TUJUH’ ini pun lagi2 laku keras di pasaran. Album ini mampu terjual
hingga 1 juta kopi lebih. Sayangnya, album ini adalah klimaks dari
penjualan seluruh album2 Slank karena penjualan album2 Slank berikutnya
mengalami penurunan yg cukup drastis.
REVOLUSI CINTA SLANK
Rabu, 06 Februari 2013
Hari ini, Rabu 6 Februari 2013, SLANK memasukkan permohonan
uji materi terhadap Pasal 15 Ayat 2 (a), Undang-Undang Kepolisian Nomer 2
Tahun 2002 ke Mahkamah Konstitusi. Bunyi pasal tersebut adalah
kepolisian mempunyai wewenang “memberikan izin dan mengawasi kegiatan
keramaian umum dan kegiatan masyarakat lainnya”.
Ada dua tujuan yang ingin kami capai dari permohonan uji materi
tersebut. Pertama, SLANK ingin menjadi bagian dari upaya menegakkan
praktek demokrasi di Tanah Air, khususnya untuk bidang kebebasan
berekspresi sebagai hak konstitusional warga negara (ekspresi kesenian,
termasuk konser musik, adalah salah satu unsur terpenting dalam
membangun peradaban Indonesia). Sejak 2008 sampai sekarang, SLANK
beberapa kali tidak mendapatkan ijin konser. Ini bukan saja membuat hak
konstitusional SLANK untuk berekspresi terganggu tetapi juga hak
ekonomi. Dalam konteks hak ekonomi, bukan saja kepentingan SLANK yang
terganggu tetapi juga pihak-pihak lain yang terkait dengan konser SLANK
seperti promotor, para penjual kaos, asesoris, dan lain-lain. Realitas
tersebut membuktikan bahwa konser musik seperti yang dilakukan SLANK
adalah bagian integral dari upaya pemerintah untuk mengembangkan Ekonomi
Kreatif.
Tujuan kedua, Slank ingin menggugah kesadaran publik utamanya para
pembuat kebijakan dan para politisi agar dapat memperhatikan Kepolisian
dalam hal menjaga keamanan khususnya pertunjukan musik. Berdasarkan
pengamatan SLANK, keputusan Polisi untuk tidak memberikan izin beberapa
kali konser SLANK karena mereka dibayangi kekhawatiran terjadinya
kerusuhan. Kekhawatiran seperti ini muncul karena jumlah Polisi di
Republik Indonesia memang sangat kurang. Perbandingannya 1:700. Padahal
menurut PBB, idealnya adalah 1:300. Apabila jumlah personil Polisi
ditambah (rekrutmen baru), maka Polisi akan bisa menjamin hak
konstitusional warga negara dalam kebebasan berekspresisebagai bagian
dari praktek demokrasi. Dalam konteks ini, para pembuat kebijakan dan
elit politisi seharusnya berani mengambil keputusan politik untuk
memperkuat POLRI. Dengan demikian, Polisi menjadi profesional dan modern
sehingga mereka bukan saja bisa menjamin hak konstitusional warga
negara dalam hal kebebasan berekspresi tetapi juga menjadi pilar kokoh
bagi tegaknya demokrasi Indonesia. Dengan langkah uji materi ini, SLANK
berharap hak konstitusional setiap warga negara untuk kebebasan
berekspresi terjamin dan POLRI sebagai pengayom masyarakat menjadi kuat
dan profesional. Itulah salah satu REVOLUSI CINTA SLANK. Dengan
demikian, setiap warga negara akan dapat memberi sumbangan bagi tegaknya
peradaban demokrasi. Khusus buat para slanker dan slanky di seluruh
pelosok Tanah Air, mereka juga akan bisa menikmati penampilan SLANK di
mana pun dan kapan pun. PISS!!
DERITA SEORANG MALING
CERPEN TEGUHT
BY TEGUHT
Malam yang naas bagi Sukro. Dia
terkepung dan tidak bisa lari ke mana‑mana lagi. Pandangan matanya silau oleh
sorot lampu‑lampu senter para pengepungnya. Antara rasa ngeri dan putus asa, ia
mengharap pertolongan Tuhan di malam itu. Antara rasa ngeri dan putus asa, ia
masih sempat memikirkan keadaan istrinya. Wanita itu tergolek tak berdaya di
rumah sakit karena terdapat kelainan pada kandungannya. Dokter mengatakan harus
dilakukan pembedahan.
Sukro mengharap Tuhan memaklumi dan
memaafkan kejahatannya di malam itu. Ia mencoba mencuri sepeda di kampung
tetangganya ini, namun tidak berhasil karena kepergok. Oh Tuhan, ini
terpaksa kulakukan demi istriku, keluhnya dalam hati.
“Modar kowe saiki! Mau lari ke mana
lagi, ha?!”
“Ayo kita cincang dia sekarang!”
Sukro menatap wajah‑wajah
pengeroyoknya dengan tatapan nanar. Hatinya gentar. “Ampun, pak. Saya terpaksa.
Baru sekali ini saya berbuat. Istri saya perlu biaya di rumah sakit,” ia
mencoba memohon belas kasihan dari mereka.
“Aaass, tiada maaf bagimu!” sahut
salah seorang dari mereka.
“Dia ini pasti yang sering mencuri
di tempat kita,” tuduh yang lain. “Sekarang lagi apes kowe, ya!”
“Ayo sikat!” Tiba‑tiba ada yang
mengomando. Segera saja tubuh Sukro mendapat gebukan bertubi‑tubi. Kepalan‑kepalan
tinju, tongkat, pentungan, tendangan, bahkan batangan besi panjang berganti‑ganti
mendarat di tubuhnya. Bak‑buk! Bak‑buk! Dari kepala sampai kaki mereka
menghajarnya. Massa yang beringas. Saat itu dalam pandangan mereka barangkali
Sukro bukan lagi ‘manusia’. Tapi ia tak beda dengan nyamuk, kecoak atau tikus.
Ia seperti binatang menjijikkan yang harus dipithes!
Sukro merasakan tubuhnya remuk‑redam.
Pandangannya berkunang‑kunang. Dengan penuh semangat mereka menggebukinya
sampai berkeringat. Ia sendiri juga berkeringat karena menahan rasa sakit. Tapi
keringat yang bercampur darah.
Di malam itu para pengeroyoknya
merasa bahwa mereka punya hak untuk langsung memvonis Sukro. “Ayo sekarang kamu
ngaku, kamu tho yang selama ini sering mencuri di kampung ini?!” Seorang
laki‑laki kekar menarik kerah bajunya dan menginterogasi. Sementara massa
berhenti memukulinya.
“Ayo ngomong!” hardiknya sambil
mengguncang‑guncang tubuh Sukro. Sukro mencoba mengumpulkan kesadarannya. Ia
ingin bicara tapi bibirnya pecah dan beberapa buah giginya rontok.
“Ampun, pak. Bukan saya…,” kata
Sukro dengan terengah‑engah.
“Mau ingkar, ya?! Nih rasakan!”
sebuah bogem mentah mendarat di pelipisnya dan membuat Sukro mencelat. Ia
menggeliat di bawah kaki mereka, berusaha untuk bangun. Lalu ada seorang pemuda
menarik lengannya. Ia menahan tubuh Sukro yang berdiri terhuyung‑huyung. Lalu
tiba‑tiba ia melepaskan pegangannya dan secepat kilat melakukan tendangan
putar. Sekali lagi Sukro terjerembab karena menjadi korban uji coba tendangan
putar dari pemuda yang baru saja lulus ujian sabuk hijau tadi.
Beberapa tangan segera menariknya.
Belum sampai berdiri, kembali ia dihajar bertubi‑tubi. Sukro tak kuat lagi
menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, bahkan ia sudah hampir putus asa
untuk tetap bisa hidup setelah ini. Tapi di dalam benaknya ia masih belum
berhenti minta ampun kepada Tuhan. Kalau memang ia harus mati, biarlah, asal di
akhirat nanti ia tidak mendapat siksa lagi.
“Sudah! Sudah!” akhirnya ada yang
memberi komanda untuk berhenti. “Sekarang kita bawa dia ke rumah Pak Erwe.”
Lalu beramai‑ramai mereka menggiring
Sukro yang babak belur itu. Setelah sampai mereka menceritakan kejadian tadi
kepada Pak Erwe.
“Siapa nama kamu?” tanya Pak Erwe.
“Jadi sekarang kamu ngaku nggak
kalau kamu itu maling,” desak Pak Erwe kepada Sukro.
“Iya, pak,” sahut Sukro lirih. “Dan dia
itu pasti maling yang sering beraksi di kampung kita ini, pak!” langsung
disambung oleh salah seorang penangkapnya.
“Benar?” selidik Pak Erwe.
“Tidak, pak. Baru sekali ini karena
istri saya butuh biaya untuk melahirkan,” ungkap Sukro.
“Ah, itu kan alasan saja!” sangkal
salah seorang dari ‘penonton’.
“Jadi kamu bukan yang sering mencuri
di sini?” tanya Pak Erwe.
“Bukan, pak. Saya baru pertama kali
ini.”
“Baiklah, akan kita serahkan orang
ini kepada polisi,” putus Pak Erwe.
“Tunggu dulu, pak. Persoalannya
harus jelas, kita harus tahu siapa yang sering mencuri di kampung kita ini!”
cegah Bendhul, salah seorang pentholan pemuda di kampung itu. Sementara teman‑temannya
yang lainpun mendukung.
“Iya, pak. Agar masyarakat kita
tidak resah lagi. Kita harus dapat mengungkapnya.”
“Barangkali pengakuannya itu hanya
dibuat‑buat saja supaya kita kasihan.”
“Coba sekali lagi kamu katakan
dengan jujur. Kamu ngaku saja. Kamu sering mencuri di sini, nggak?!” Pak Erwe
kembali menanyainya.
“Sumpah, pak. Saya baru sekali ini,”
bantah Sukro.
“Brengsek kamu ya!” Tiba‑tiba
Bendhul menarik kerah Sukro dan menempelengnya.
“Bendhul! Sudah!” Pak Erwe merasa
tersinggung atas perbuatannya itu yang dianggap meremehkan kewibawaannya.
Sementara Bendhul yang masih meluap‑luap emosinya dipegangi oleh orang‑orang
di sekitarnya.
“Pak Erwe, kita harus selidiki siapa
tahu dia punya kawanan,” kata Bagong.
“Ah sudahlah, itu biar jadi
urusannya polisi saja. Lagi pula kalian kan sudah menghajarnya sampai babak‑belur
begini. Itu namanya kalian sudah main hakim sendiri. Nah, Ahmad dan Rijal,
kalian berdua ikut saya mengantar orang ini ke kantor polisi. Baiklah bapak‑bapak
dan saudara‑saudara sekalian, masalah ini kita tuntaskan dulu sampai di sini
karena malam sudah larut dan esok hari kita masing‑masing punya tugas
yang harus dikerjakan. Selamat malam,” akhirnya Pak Erwe membubarkan acara
interogasi itu.
Mereka pulang dengan pikiran dan
perasaan masing‑masing. Ada yang merasa lega karena malingnya tertangkap. Ada
juga yang merasa menjadi hero. Tapi ada pula yang masih penasaran seperti
Bendhul dan Bagong. Masing‑masing punya cerita untuk esok harinya.
Sukro yang malang kini meringkuk
dalam tahanan. Sebuah pekerjaan yang sia‑sia. Bebannya kini bertambah berat.
Bagaimana ia harus mencari biaya untuk operasi istrinya? Tubuhnya saja sudah
hancur. Belum lagi hukuman pengadilan yang nanti harus dijalaninya. Kuat
pulakah istrinya nanti menanggung aib ini di tengah masyarakat? Otaknya tak
kuat lagi memikirkan itu semua, ia hampir putus asa.
Oh Tuhan…, suara batinnya tercekat. Hampir
saja ia menuduh Tuhanlah dalang dari peristiwa ini. Seandainya dia tidak
miskin atau seandainya tidak ada kelainan di kandungan istrinya.
Untunglah masih ada sepercik iman
yang tersisa di kalbunya. Masih cukup kuat untuk mencegahnya bunuh diri.
Di lain pihak, Pak Erwe termenung
memikirkan kejadian semalam. Biasanya dia sendiri juga ikut menghajar kalau
ada maling yang tertangkap basah seperti si Sukro itu. Tapi tadi malam sebelum
Sukro digelandang ke rumahnya, tiba‑tiba ada sepercik kesadaran di hatinya.
Tentang apa saja yang telah dikerjakannya selama ini. Ia yang tidak peduli
dalam mencari nafkah, halal atau haram. Korupsi, kolusi, manipulasi… semua
pernah dilakukannya.
Ia tahu perbuatan seperti itu sangat
tercela dan berdosa. Tapi di jaman ini bukan dia sendiri yang begitu. Hal ini
sudah umum, lumrah. Orang‑orang yang berusaha untuk jujur sudah langka. Dan
kalau ada, mereka sulit untuk berkembang dalam kehidupannya. Bukankah hidup di
tengah masyarakat, kita harus punya prestise agar dihargai?
Tapi tadi siang hampir saja ia tewas
digilas oleh truk ketika sepeda motornya selip di tengah jalan. Untunglah
tubuhnya terguling di kolong truk itu, di antara roda‑rodanya. Ia selamat dan
sepeda motornya juga selamat karena terseret aspal ke tepi jalan. Ia dan sepeda
motornya tidak tergilas oleh truk itu!
Kejadian itu berlangsung di depan
sebuah masjid tepat pada saat adzan zuhur. Sebagai ungkapan rasa syukurnya ia
mampir ke masjid itu untuk menghadap kepada Allah. Ketika itu ia begitu takut
pada kematian. Dalam doanya, ia sampai bercucuran air mata karena haru dan
syukur. Peristiwa itu telah membuatnya berpikir pada malam harinya. Ia merasa
malu kepada Tuhan. Ia juga malu kalau ada orang lain yang mengetahui
perbuatannya selama ini. Bahkan ia juga malu terhadap teman‑temannya yang sama‑sama
koruptor atau pernah diajak kolusi.Lalu datanglah Sukro yang digi‑ring oleh
orang banyak ke rumahnya. Sukro yang maling sepeda itu. Baru sekali mencuri
tapi apes nasibnya. Menatap Sukro seperti menatap bayangannya di cermin. Tapi
Sukro terlalu bagus untuk jadi bayangannya! Apalagi ketika benar terbukti istri
Sukro menjalani bedah caesar di rumah sakit. Sukro mencuri karena
terpaksa. Sedangkan dia, dia mencuri karena merasa masih kurang dan dengan cara
yang lebih licik.
Sementara itu Bendhul dan Bagong,
dua orang di antara pentholan pemuda kampung itu, menjalani hari‑harinya
dengan biasa. Mereka tak punya pekerjaan tetap selain berjudi dan teler. Kadang‑kadang
jadi makelar di antara teman‑temannya. Tapi lebih sering mereka mencuri ke kampung
tetangga atau mengompas orang. Mereka berdua dan teman‑temannyalah yang paling
bersemangat menghajar Sukro di malam itu. Maling berteriak maling, maling
menghajar maling.
Sedangkan Prakoso, pemuda yang baru
lulus ujian sabuk hijau, dengan bangga bercerita kepada teman‑temannya,
terutama pacarnya, tentang kisah keberaniannya menangkap maling. Bagaimana ia
memburu maling dan mengepungnya bersama orang banyak. Dan tidak ketinggalan
pula diceritakan bagaimana tendangan putarnya berhasil merobohkan si maling.
Sukro dijatuhi hukuman tiga bulan
kurungan. Malang nasibnya. Tapi masih ada satu orang yang kasihan dan mau
membantu kesulitannya. Seluruh ongkos perawatan dan operasi istrinya ditebus
oleh Pak Erwe. Tuhan, ampunilah dosa‑dosaku selama ini. Inilah sebagian uang
rakyat yang kukembalikan kepada mereka, bisiknya lirih dalam hati.

Minggu, 03 Februari 2013
butiran penyesalan penuhi ruang hampa ini, banjiri aliran darahju, membentuk percikan empun putih kesejukan jiwa nan rapuh .. . mungkin dia bukanlah orang yang hanya mempunyai 2 hati . . tapi cuma kali ini saja ku minta pedanya . .
untuk mengenang jasa dan rintihan keinginan yang q miliki . . hanya 1 dai 1000 mungkin yang membuatmu beda darinya . . dara terbangun pagi itu . . membuka jendela agar udara sejuk di luar bisa msuk dan menggantikan pengapny udara yang semalaman terisi oleh co2 itu . .
ruinitasnya kini mulai ia jalankan kembali, menuntut ilmu dan bersekolah . . selesai sarapan pagi dan bersiap, dara memanaskan motor bebek yang sudah 3 tahun menemaninya, sambil
untuk mengenang jasa dan rintihan keinginan yang q miliki . . hanya 1 dai 1000 mungkin yang membuatmu beda darinya . . dara terbangun pagi itu . . membuka jendela agar udara sejuk di luar bisa msuk dan menggantikan pengapny udara yang semalaman terisi oleh co2 itu . .
ruinitasnya kini mulai ia jalankan kembali, menuntut ilmu dan bersekolah . . selesai sarapan pagi dan bersiap, dara memanaskan motor bebek yang sudah 3 tahun menemaninya, sambil
Bidadariku
Selasa, 22 Januari 2013
Bidadariku
by:teguht
pagi buta saat semua anak dikelasnya sibuk menyalin pe-er dikelas
ardhi tampak gelisah mondar mandir didepan kelas sesekali wajahnya menatap
kearah pintu gerbang dan wajahnya pun kembali murung. wajah ardhi semakin
cemas saat matahari mulai meninggi.. dan wajahnya mulai cerah saat dia melihat seorang gadis manis dengan tas
selempang berjalan kearahnya.. gadis itu zara gadis yang sedari pagi dia tunggu-tungu kehadiranya dengan mimik
sumringah ardhi menyambutnya.. "hai kemana aja sih jam segini baru datang aku kan kuatir ntar kamu telat trus dihukum" koar ardhi begitu
zara ada didepannya. zara tampak bersikap dingin dan mengambil sesuatu dari dalam tas selempangnya , zara mengeluarkan buku tugas
kimianya lalu menyerahkannya pada ardhi.
"udah gak usah basa-basi kamu nungguiin aku mau nyontek pe-er kan nich..." ujar zara dingin.
" hee hee tau aja kamu,, abis semalam aku ketiduran" bales ardhi cengengesan.
"ketiduran kok tiap hari bilang aja.. males buruan salin deh ntar keburu masuk lagi "
" ya udah ku nyalin dulu ya makasih he..he"
"iya " ujar zara males karna udah hampir tiap hari ardhi selalu begitu, manis saat ada butuhnya..
ardhi melesat pergi mencari tempat yang aman untuk menyalin tugas . sementar zara masuk kedalam kelas yang riuh oleh mahluk2 malas yang
belum mengerjakan pe-er . mereka duduk menbundar mengelilingi sebuah buku yg pe-ernya sudah dikerjakan. sambil sesekali melirik jam
dinding lalu buru-buru kembali menyalin dengan raut muka yang pucat pasi takut bel keburu berbunyi .. sebelum mereka sempat menyalin
semua .. ditengah kapanikan teman 2nya yang saling tarik - buku catatan itu .. tiba2 ardhi muncul sambil menggedor-gedor papan tulis.
"to..tok huh gimana negara kita mau maju kalo terus-terusan begini.. pe-er dikerjakan dirumah hoi.." koar ardhi menambah panik seluruh
suasana yang langsung mendapat reaksi keras dari temen2nya yang kalang kabut menyalin tugas disisa-sisa waktu mereka.
"huuuuuh kayak lo ya nggak aja..!"Protes anak-anak sewot campur panik
ardhi berjalan penuh kemenangan diantara kerumunan temen_temannya yang panik bukan kepalang membayangkan seandainya tidak selesai
menyalin bakalan digantung MR . yon sebutan mereka untuk guru kimia mereka yang galaknya naudubilliah.. ia langsung menghampiri zara
yang tersenyum geli melihat tingkah ardhi.
"huh makasih ya za atas pengertian lo..! nih bukunya " ujar ardhi yang menyalin lebih cepat karena bukunya gak rebutan dan emang sudah
terbiasa nyalin pe-er dengan waktu yang singkat
"perez lo kalo gini aja maniis banget ! coba kalo gak butuh pasti aku cuekin, dasar"
"ow-ow nggak akan dan mungkin ardhi nyuekin gadis multi talent kayak kamu za" koar ardhi dengan rayuan basinya, karna zara udah terlalu
sering digituin .
"ugh ga ada yang lain apa"
"hee belum ngarang nich kasih ide donk..! " koar ardhi cengngesan.
"mmm dhii!" panggil zara malu-malu.
" apaa!"
" aku bisa minta tolong nggak ? tapi kalo nggak bisa juga nggak papa koq" ucapnya ragu-ragu.
" ya ampun za.. ! kalo aku bisa pasti aku mau apaan sih" tanya ardhi penasaran .
"bener nih"
" yakin deh.. apasih yang nggak buat lo auww"
tiba-tiba ardhi di cubit keraas sama zara.
" gombal.. lo..! mm ntar sore anterin ketoko bukunya bisa kan " pinta zara penuh harap.
" ntar sore" ardhi tampak mikir2 sementara zara berharap2 cemas.. " bisa ..! aku anterin" ujar ardhi mantap.
" bener loya awas lo..! jam tiga sore yaa"
" siip! tapi beliin bensin ya lagi bokek nih hee hee!" ujar ardhi cengengesan.
"dasar pelit ! kalo buat cewek lain aja nggak bokek"
-------------------- ----------------------- ---------------------------------------------
dan benar sore hari ardhi menepati janjinya mengantarkan zara ketoko buku mereka berpisah zara sibuk dirak buku tentang sains sementara
ardhi sibuk membaca komik sinchan yang sudah kebuka dasar nggak mau rugi ardhi membaca dengan asyiknya tanpa ada rencana buat beli.
hinga akhirnya ada tangan lembut yang menyentuhnya.
"hei dhii balik yuk" ujar zara mengagetkan ardhi yang lagi asyik baca komik.
" eh udah selesai za nyari bukunya cepet amat"
" ya aku kasian ma kamu pasti bosen nungunya"
"nggak koq' justru aku seneng jadi bisa baca komik gratis hee hee"
zara tersenyum geli melihat ardhi yang udah gede ternyata masih suka baca sinchan.
"sukur deh nih aq ad sesuatu buat kamu.." ujar zara menyerahkan sebuah buku kumpulan rumus-rumus ipa..
"oh makasih za. kebetulan aku juga nyari buku ini lo" ujar ardhi basa basi padahal baru liat sampulnya aja ardhi udah pusing2 belum menbaca
bisa meriang dia. tapi karena zara yang ngasih ardhi pura-pura suka.
" dhi aku ngasih ini berharap dengan ini kamu mulai mau ngerjain tugas-tugas kamu sendiri..! jangan ngandalin aku terus bentar lagi kan UAN..
maaf ya dhi bukannya aku gak mau nyontekin kamu terus tapi aku pengen kamu sukses dhi..! karna aku nggak mungkin akan bantuain kamu
ngerjain tugas terus" terang zara panjang lebar , membuat ardhi terdiam tak menyangka zara sebegitu memikirkanya, ardhi jadi merasa
bersalah selama ini hanya memanfaatkan zara yang begitu baik padanya.
ardhi masih terdiam tak bisa berkata-kata apa-apa lagi.
"dhi maaf kalo aku nyinggung kamu, kamu boleh koq nggak nerima ini,, dan nyegat aku tiap pagi buat nyontek pe-er" ucap zara merasa nggak
enak hati melihat ardhi hanya terdiam.
"huuuh kamu bener za aku nggak bisa terus ngandalin kamu ! suatu saat aku harus berdri sendiri maksih atas bukunya .. kamu mau kan nganjari aku"
"pasti dhi......! asal ada uang privatnya aja hee hee" ujar zara cengengesan.
"dasar...!"
------------------ --------------------------- ------------------------------------
zara berjalan santai menuju kelasnya pagi ini
ardhi masih menyegat dia untuk nyontek pe-er tapi makin jarang-dan jarang ,sampai akhirnya tak pernah lagi menunggu didepan kelas untuk
nyalin pe-er lagi walau zara kadang merasa kehilangan tapi dia senang melihat ardhi bisa berubah.
ardhi tiba-tiba menghampiri bangku zara sesuatu yang belakangan jarang dilakukannya.
"hai za"
" ardhi tumben..! da perlu apa nih" ujar zara yang sebenarnya kangen semenjak ardhi bisa ngerjai semua sendiri ia jadi jarang nyamperin zara
lagi.
"aku kesini gak pengen bicara soal pelajaran lagi .tapi pengen ngajak kamu nonton mau ya.. ya..!" ujar ardhi sambil mengedip-ngedipkan mata
konyol.
"boleeh" jawab zara sanbil tersenyum super manis pada ardhi, ungkapan rasa kangen belakangan jarang berbincang....
cemas saat matahari mulai meninggi.. dan wajahnya mulai cerah saat dia melihat seorang gadis manis dengan tas
selempang berjalan kearahnya.. gadis itu zara gadis yang sedari pagi dia tunggu-tungu kehadiranya dengan mimik
sumringah ardhi menyambutnya.. "hai kemana aja sih jam segini baru datang aku kan kuatir ntar kamu telat trus dihukum" koar ardhi begitu
zara ada didepannya. zara tampak bersikap dingin dan mengambil sesuatu dari dalam tas selempangnya , zara mengeluarkan buku tugas
kimianya lalu menyerahkannya pada ardhi.
"udah gak usah basa-basi kamu nungguiin aku mau nyontek pe-er kan nich..." ujar zara dingin.
" hee hee tau aja kamu,, abis semalam aku ketiduran" bales ardhi cengengesan.
"ketiduran kok tiap hari bilang aja.. males buruan salin deh ntar keburu masuk lagi "
" ya udah ku nyalin dulu ya makasih he..he"
"iya " ujar zara males karna udah hampir tiap hari ardhi selalu begitu, manis saat ada butuhnya..
ardhi melesat pergi mencari tempat yang aman untuk menyalin tugas . sementar zara masuk kedalam kelas yang riuh oleh mahluk2 malas yang
belum mengerjakan pe-er . mereka duduk menbundar mengelilingi sebuah buku yg pe-ernya sudah dikerjakan. sambil sesekali melirik jam
dinding lalu buru-buru kembali menyalin dengan raut muka yang pucat pasi takut bel keburu berbunyi .. sebelum mereka sempat menyalin
semua .. ditengah kapanikan teman 2nya yang saling tarik - buku catatan itu .. tiba2 ardhi muncul sambil menggedor-gedor papan tulis.
"to..tok huh gimana negara kita mau maju kalo terus-terusan begini.. pe-er dikerjakan dirumah hoi.." koar ardhi menambah panik seluruh
suasana yang langsung mendapat reaksi keras dari temen2nya yang kalang kabut menyalin tugas disisa-sisa waktu mereka.
"huuuuuh kayak lo ya nggak aja..!"Protes anak-anak sewot campur panik
ardhi berjalan penuh kemenangan diantara kerumunan temen_temannya yang panik bukan kepalang membayangkan seandainya tidak selesai
menyalin bakalan digantung MR . yon sebutan mereka untuk guru kimia mereka yang galaknya naudubilliah.. ia langsung menghampiri zara
yang tersenyum geli melihat tingkah ardhi.
"huh makasih ya za atas pengertian lo..! nih bukunya " ujar ardhi yang menyalin lebih cepat karena bukunya gak rebutan dan emang sudah
terbiasa nyalin pe-er dengan waktu yang singkat
"perez lo kalo gini aja maniis banget ! coba kalo gak butuh pasti aku cuekin, dasar"
"ow-ow nggak akan dan mungkin ardhi nyuekin gadis multi talent kayak kamu za" koar ardhi dengan rayuan basinya, karna zara udah terlalu
sering digituin .
"ugh ga ada yang lain apa"
"hee belum ngarang nich kasih ide donk..! " koar ardhi cengngesan.
"mmm dhii!" panggil zara malu-malu.
" apaa!"
" aku bisa minta tolong nggak ? tapi kalo nggak bisa juga nggak papa koq" ucapnya ragu-ragu.
" ya ampun za.. ! kalo aku bisa pasti aku mau apaan sih" tanya ardhi penasaran .
"bener nih"
" yakin deh.. apasih yang nggak buat lo auww"
tiba-tiba ardhi di cubit keraas sama zara.
" gombal.. lo..! mm ntar sore anterin ketoko bukunya bisa kan " pinta zara penuh harap.
" ntar sore" ardhi tampak mikir2 sementara zara berharap2 cemas.. " bisa ..! aku anterin" ujar ardhi mantap.
" bener loya awas lo..! jam tiga sore yaa"
" siip! tapi beliin bensin ya lagi bokek nih hee hee!" ujar ardhi cengengesan.
"dasar pelit ! kalo buat cewek lain aja nggak bokek"
-------------------- ----------------------- ---------------------------------------------
dan benar sore hari ardhi menepati janjinya mengantarkan zara ketoko buku mereka berpisah zara sibuk dirak buku tentang sains sementara
ardhi sibuk membaca komik sinchan yang sudah kebuka dasar nggak mau rugi ardhi membaca dengan asyiknya tanpa ada rencana buat beli.
hinga akhirnya ada tangan lembut yang menyentuhnya.
"hei dhii balik yuk" ujar zara mengagetkan ardhi yang lagi asyik baca komik.
" eh udah selesai za nyari bukunya cepet amat"
" ya aku kasian ma kamu pasti bosen nungunya"
"nggak koq' justru aku seneng jadi bisa baca komik gratis hee hee"
zara tersenyum geli melihat ardhi yang udah gede ternyata masih suka baca sinchan.
"sukur deh nih aq ad sesuatu buat kamu.." ujar zara menyerahkan sebuah buku kumpulan rumus-rumus ipa..
"oh makasih za. kebetulan aku juga nyari buku ini lo" ujar ardhi basa basi padahal baru liat sampulnya aja ardhi udah pusing2 belum menbaca
bisa meriang dia. tapi karena zara yang ngasih ardhi pura-pura suka.
" dhi aku ngasih ini berharap dengan ini kamu mulai mau ngerjain tugas-tugas kamu sendiri..! jangan ngandalin aku terus bentar lagi kan UAN..
maaf ya dhi bukannya aku gak mau nyontekin kamu terus tapi aku pengen kamu sukses dhi..! karna aku nggak mungkin akan bantuain kamu
ngerjain tugas terus" terang zara panjang lebar , membuat ardhi terdiam tak menyangka zara sebegitu memikirkanya, ardhi jadi merasa
bersalah selama ini hanya memanfaatkan zara yang begitu baik padanya.
ardhi masih terdiam tak bisa berkata-kata apa-apa lagi.
"dhi maaf kalo aku nyinggung kamu, kamu boleh koq nggak nerima ini,, dan nyegat aku tiap pagi buat nyontek pe-er" ucap zara merasa nggak
enak hati melihat ardhi hanya terdiam.
"huuuh kamu bener za aku nggak bisa terus ngandalin kamu ! suatu saat aku harus berdri sendiri maksih atas bukunya .. kamu mau kan nganjari aku"
"pasti dhi......! asal ada uang privatnya aja hee hee" ujar zara cengengesan.
"dasar...!"
------------------ --------------------------- ------------------------------------
zara berjalan santai menuju kelasnya pagi ini
ardhi masih menyegat dia untuk nyontek pe-er tapi makin jarang-dan jarang ,sampai akhirnya tak pernah lagi menunggu didepan kelas untuk
nyalin pe-er lagi walau zara kadang merasa kehilangan tapi dia senang melihat ardhi bisa berubah.
ardhi tiba-tiba menghampiri bangku zara sesuatu yang belakangan jarang dilakukannya.
"hai za"
" ardhi tumben..! da perlu apa nih" ujar zara yang sebenarnya kangen semenjak ardhi bisa ngerjai semua sendiri ia jadi jarang nyamperin zara
lagi.
"aku kesini gak pengen bicara soal pelajaran lagi .tapi pengen ngajak kamu nonton mau ya.. ya..!" ujar ardhi sambil mengedip-ngedipkan mata
konyol.
"boleeh" jawab zara sanbil tersenyum super manis pada ardhi, ungkapan rasa kangen belakangan jarang berbincang....
Langganan:
Postingan (Atom)

